Selasa, 27 Oktober 2026

Fatherless Country vs Father Presence

 

Fatherless Country vs Father Presence

Refleksi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI)


 

Bagi kita, anak adalah anugerah sekaligus juga amanah dari Allah SWT. Kita, selaku orang tua wajib mendidik dan menjaganya dalam mengantarkan mereka menuju jalan yang benar dan lurus sesuai fitrahnya. Jika kita ajarkan kebaikan dan kebenaran, maka mereka akan berada dijalan lurus menuju keselamatan. Namun jika sebaliknya, maka jalan kesesatanlah yang akan dilalui oleh mereka. Diriwayatkan dalam sebuah hadis, dari Abu Hurairoh r.a, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saat ini, kita sering terjebak dalam stigma bahwa urusan mendidik anak, menemani bermain, dan membentuk karakter ego anak adalah tugas mutlak seorang ibu. Sementara ayah, sering kali dianggap cukup hanya sebagai mesin pencari nafkah semata.

Fenomena ini melahirkan apa yang disebut oleh para pakar sosiologi sebagai “fatherless country” atau negeri tanpa ayah—sebuah kondisi di mana ayah ada secara fisik, namun absen secara psikologis dan spiritual dalam kehidupan anak-anaknya.

Sejatinya, Islam tidak pernah mengajarkan hal demikian. Al Quran memberikan porsi yang sangat besar dalam menggambarkan bagaimana dialog-dialog pengasuhan justru banyak dilakukan oleh seorang ayah. Dr Tariq al-Suwaidan dalam riset statistik dan numerik Al Quran yang dipublikasikan dalam format buku yang berjudul Al-Izazul Adadi fil Qur’anil Karim, yang diterbitkan pada tahun 1990 hingga awal tahun 2000 menyampaikan hasil risetnya sebagai berikut: “Bahwa di dalam Al Quran ada 17 dialog antara orang tua dan anak. 14 dialog melibatkan peran Ayah, 2 dialog melibatkan peran Ibu, dan 1 dialog melibatkan gabungan kedua orang tua dalam menghadapi anak yang membangkang.”

Maka, 14 berbanding 2 ini adalah sebuah pesan eksplisit dari Allah SWT, bahwa peran ayah sangat dominan dalam tumbuh kembang anak untuk membentuk karakter anak dalam masalah ketauhidan, ketataan kepada Tuhan, penanaman akhlak dan moral, adab sosial kemasyarakatan, bahkan visi untuk menghadapi masa depan. Allah SWT berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….”

Ayat ini merupakan khitab atau seruan yang ditujukan utama kepada para kepala keluarga, yaitu para ayah. Ayah adalah benteng utama, komandan, dan penanggung jawab hitam-putihnya masa depan anak di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW juga mempertegas tanggung jawab besar ini dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Beliau bersabda:“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya... Seorang laki-laki (ayah) adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan dia akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.”

Jika kita membuka lembaran kitab-kitab para ulama, kita akan mendapati betapa tegasnya mereka dalam menyoroti peran ayah. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, menerangkan satu hal yang sangat menampar kita, selaku para ayah. Beliau mengungkapkan: “Kerusakan yang terjadi pada anak, mayoritas penyebabnya adalah karena kelalaian ayah. Ayah mengabaikan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban agama serta sunnah-sunnahnya. Mereka menyia-nyiakan anak-anak sejak kecil, sehingga anak-anak tidak memberikan manfaat untuk diri mereka sendiri dan orang tua mereka saat tumbuh dewasa.”

Pendapat ulama ini selaras dengan temuan para pakar pendidikan modern. Berbagai studi psikologi anak menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan kehadiran sosok ayah yang aktif (father-presence) memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih tinggi, lebih percaya diri, lebih mandiri, dan memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem-solving) yang jauh lebih baik. Sebaliknya, anak yang kehilangan figur ayah (baik karena perceraian, kematian, atau ayah yang sibuk bekerja tanpa interaksi) rentan mengalami depresi, kecemasan, penurunan prestasi akademik, hingga terjerumus pada kenakalan remaja dan narkoba. Terkait hal itu, para pakar pendidikan menekankan bahwa ibu memberikan rasa aman dan empati, sedangkan ayah memberikan tantangan, ketegasan, dan mengenalkan batas-batas dunia luar.

Mari kita tengok kisah teladan yang abadi di dalam Al Quran. Allah SWT mengabadikan nama seorang ayah yang bukan nabi, bukan pula raja, namun namanya kekal menjadi nama surat karena kehebatannya dalam mendidik anak. Tidak lain, beliau adalah Luqman Al-Hakim. Dalam surat Luqman ayat 13, Allah mengabadikan momen kedekatan Luqman dengan anaknya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’”

Perhatikan panggilan Luqman kepada anaknya, “Ya Bunayya”. Ini adalah panggilan kasih sayang, sebuah panggilan yang melembutkan hati anak. Luqman tidak mendidik dengan membentak, tidak pula mentransfer kurikulum kehidupan dengan penuh amarah. Ia mendidik dengan kedekatan hati, mengajarkan tauhid, akhlak, shalat, dan adab bermasyarakat secara langsung.

Kisah teladan lainnya datang dari Nabi Ibrahim AS. Beliau adalah ayah yang sangat sibuk, berdakwah melintasi negara dan benua. Namun, ketika beliau mendapatkan perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail, beliau tidak langsung mengeksekusinya secara otoriter. Nabi Ibrahim mengajak Ismail berdiskusi, meminta pendapatnya secara demokratis. Dialog tersebut diabadikan oleh Allah SWT dalam Alquran surat Ash-Shaffat ayat 102 : “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Psikologis yang dibangun Ibrahim membuat Ismail tanpa ragu menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Demikianlah ketaatan Ismail lahir dari kualitas pengasuhan Ibrahim yang luar biasa. Lalu, bagaimanakah kita bisa meneladani para tokoh di atas di era modern yang penuh tantangan digital ini? Di sini, setidaknya ada tiga peran mendasar yang harus diambil oleh seorang ayah saat ini, yakni sebagai berikut: 1. Ayah sebagai pendidik iman dan akhlak (The Spiritual Leader). Ayah harus menjadi teladan utama dalam beribadah. Jangan sampai anak melihat ayahnya jarang ke masjid, gemar berbohong, atau sibuk dengan gawai saat adzan berkumandang. 2. Sebagai pemberi kasih sayang dan perhatian (The Emotional Anchor). Sempatkan waktu setidaknya 15-30 menit sehari tanpa gangguan apa pun untuk mengobrol, mendengarkan keluh kesah anak, dan memeluk mereka. 3. Sebagai penjaga batasan dan disiplin (The Coach). Ayah mengajarkan ketegasan, sportivitas, dan hukum sebab-akibat dalam kehidupan agar anak siap menghadapi kerasnya dunia di luar rumah.

Menjadi ayah bukanlah sekadar status biologis setelah pernikahan. Menjadi ayah adalah sebuah profesi ukhrawi, sebuah amanah suci yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan mahkamah Allah SWT.  Mencari nafkah adalah kewajiban yang mulia, namun jangan sampai demi menjamin masa depan finansial anak, kita justru menghancurkan masa depan moral, mental, dan spiritual mereka karena ketidakhadiran kita di sisi mereka. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah, kekuatan, dan kesabaran kepada para ayah agar mampu mengemban amanah pengasuhan ini dengan baik, sehingga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang saleh, qurrata a’yun, dan pembawa keberkahan bagi agama, bangsa, dan kedua orang tuanya.

 

Upacara Hari Sumpah Pemuda (Rabu, 28 Oktober 2026)






 

Jumat, 09 Oktober 2026

Hikmah Rajab

 

Hikmah Rajab

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ فَضَّلَنَا بِشَهْرِ رَجَبَ، وَهُوَ الَّذِيْ اصْطَفَى نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا ﷺ الْمُجْتَبَى الْمُؤَيَّد. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمَ وَبَارِكْ وَتَرَحَّمْ وَتَحَنَّنْ عَلَى مَنْ بِهِ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ يَوْمَ الْمَآبِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعِبَادِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى سَائِرِ الْأَعَاجِمِ وَالْعَرَب. أما بعد :فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِىْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Dalam kaitan bulan Rajab, ada sebuah doa teruntai indah untuk kita amalkan. Bunyinya :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah berilah kami keberkahan pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadan.”

Doa ini mengandung permohonan kepada Allah SWT agar kita diberi berkah. Berkah adalah salah satu nikmat Allah yang harus kita jaga kenikmatan ini dengan langkah-langkah sebagai berikut :

Pertama, kita lestarikan berkah dalam hidup dengan senantiasa menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah-Nya. Caranya dengan mengerjakan semua perintah kebaikan dan menjauhi semua larangan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-A’raf : 96)

Termasuk cara mendulang berkah dengan aktif menjalin hubungan persaudaraan dan menjaga persatuan sesama muslim. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari-Muslim)

Langkah kedua untuk menjaga berkah agar selalu bersama kita adalah dengan mensyukuri semua nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kita. Semua nikmat Allah wajib kita syukuri. Sebab tidak ada satupun dalam kehidupan manusia yang bukan bersumber dari Allah Subhanahu Wata’ala. Sejak kita lahir hingga sekarang bahkan sejak kita masih di dalam rahim ibu kita, semuanya nikmat dari Allah. Tidak seorangpun yang bisa menghitungnya. Allah Subhanahu Wata’ala yang berfirman :

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim : 07)

Ketiga, menghiasi diri dengan adab-adab Islam yang sudah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita. Mari kita amalkan adab dan etika sebagai muslim dalam berbagai situasi yang kita jalani dalam hidup kita. Inilah salah satu cara melestarikan berkah. Beberapa contoh adab Islami seperti membiasakan membaca Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) saat hendak makan, minum, masuk rumah, dan semisalnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لاَ مَبِيتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ. وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ. وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

“Jika seseorang memasuki rumahnya lalu dia menyebut nama Allah saat masuk rumah, begitu pula saat dia makan, maka setan pun berkata (pada teman-temannya), “Kalian tidak ada tempat untuk bermalam dan tidak ada jatah makan.” “Ketika dia masuk rumahnya tanpa menyebut nama Allah, setan pun mengatakan (pada teman-temannya), “Saat ini kalian mendapatkan tempat untuk bermalam.” Dan ketika dia lupa menyebut nama Allah saat makan, maka setan pun berkata, “Kalian mendapat tempat bermalam dan jatah makan malam.” (HR. Muslim)

Langkah keempat yang tidak kalah pentingnya adalah dengan selalu berdoa, membaca zikir dalam berbagai kondisi. Dengan doa-doa dan zikir-zikir kita membentengi diri dari segala keburukan yang akan hinggap sekaligus kita mendatangkan keberkahan dan kebaikan untuk diri, keluarga, dan umat Islam pada umumnya.

Demikianlah khutbah Jumat pada siang hari ini. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kebenaran bagi kita semua, dan kita semua selamat di dunia sampai di akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Fatherless Country vs Father Presence

  Fatherless Country vs Father Presence Refleksi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI)   Bagi kita, anak adalah anugerah sekalig...