Rabu, 02 September 2026

Memasuki Bulan Maulid, Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Rasulullah

 

Memasuki Bulan Maulid, Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Rasulullah

 اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ، وَجَعَلَ فِيْهِ مَنَاهِجَ الْهِدَايَةِ لِلنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، صَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Saat ini kita berada di bulan Rabiul Awal, bulan yang selalu mengingatkan kita kepada sosok manusia paling mulia, Nabi Muhammad saw. Di bulan ini, nama Rasulullah kembali sering disebut. Shalawat dilantunkan. Kisah kelahiran dan perjuangan beliau dibacakan. Majelis-majelis maulid kembali semarak. Semua itu merupakan ungkapan cinta kita kepada Rasulullah saw. Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama: sejauh mana cinta itu benar-benar terlihat dalam kehidupan kita? Sebab, mencintai Nabi tidak cukup hanya dengan ucapan. Kita boleh rajin bershalawat, membaca kisah kehidupan beliau, dan menghadiri majelis-majelis maulid. Tetapi jika lisan kita masih mudah menyakiti orang lain, jika kita masih mudah marah, jika kita sulit memaafkan, dan jika kita masih berat membantu orang yang membutuhkan, maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri: di mana letak cinta kita kepada Rasulullah?

Cinta yang sejati selalu melahirkan keinginan untuk mengikuti. Ketika kita mencintai seseorang dan menjadikannya sebagai teladan, tentu kita ingin meniru kebaikannya. Kita ingin memiliki sifat-sifat baik yang ada pada dirinya. Begitu pula dengan cinta kepada Nabi Muhammad saw. Mencintai Rasulullah berarti berusaha mengikuti beliau, meneladani akhlaknya, menjaga ucapan, memperbaiki perilaku, dan menghadirkan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga ditegaskan Allah Swt. ketika ada manusia yang mengaku mencintai-Nya. Pengakuan cinta itu tidak cukup hanya dengan kata-kata. Allah menunjukkan bahwa bukti cinta kepada-Nya adalah mengikuti Rasulullah saw. Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31).

Memang, ayat ini berbicara tentang bukti cinta kepada Allah. Namun, di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat penting: cinta tidak cukup hanya diucapkan. Cinta harus dibuktikan dengan mengikuti yang kita cintai. Karena itu, momentum bulan Maulid seharusnya menjadi kesempatan bagi kita untuk kembali mengoreksi kecintaan kita kepada Nabi. Jangan sampai kita begitu mudah mengatakan, “Kami mencintai Rasulullah,” tetapi kita tidak sungguh-sungguh berusaha mengikuti akhlak dan keteladanan beliau.

Salah satu cara mencintai Rasulullah saw. adalah berusaha meneladani akhlaknya. Sayyidah Aisyah pernah ditanya tentang seperti apa akhlak Rasulullah saw. Jawabannya sederhana, tetapi sangat dalam. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan:

 سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا صَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

“Aku (Abu Abdillah al-Jadali) pernah bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah. Ia menjawab: ‘Beliau bukanlah orang yang berkata keji, bukan pula orang yang berbuat keji, tidak suka berteriak-teriak di pasar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan memaafkan dan berlapang dada.’” (HR. At-Tirmidzi).

Perhatikanlah akhlak Rasulullah. Nabi tidak berkata kasar. Beliau tidak suka membuat keributan. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan. Ketika disakiti, beliau memilih memaafkan. Ketika diperlakukan buruk, beliau memilih berlapang dada. Akhlak seperti inilah yang seharusnya menjadi cermin dalam kehidupan kita sehari-hari. Menjaga lisan agar tidak menyakiti, menahan diri ketika marah, tidak membalas keburukan dengan keburukan, dan belajar memaafkan dengan hati yang lapang. Akhlak Rasulullah sangat dekat dengan kehidupan kita. Ketika kita sedang marah kepada pasangan, bagaimana ucapan kita? Ketika anak melakukan kesalahan, bagaimana sikap kita? Ketika tetangga berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan, apakah kita langsung membalasnya? Ketika seseorang menyakiti hati kita, apakah kita mampu menahan diri? Di situlah cinta kepada Rasulullah diuji. Sebab, cinta kepada Nabi bukan hanya terlihat ketika kita bershalawat, tetapi juga ketika kita mampu mengikuti akhlak beliau dalam menghadapi kehidupan.

Namun, kelembutan dan kelapangan hati bukan satu-satunya akhlak Rasulullah yang patut kita teladani. Ada pula sifat Nabi yang begitu kuat melekat dalam kehidupan, yaitu kedermawanan. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan. Bahkan, kedermawanan beliau semakin besar ketika bulan Ramadhan. Imam Bukhari meriwayatkan:

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

“Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah saw. adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.”

Kedermawanan Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa rezeki yang Allah berikan bukan semata-mata untuk kita nikmati sendiri. Ada saatnya kita berbagi. Ada saudara yang membutuhkan. Ada orang yang sedang kesulitan. Ada keluarga yang mungkin sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan boleh jadi, pertolongan yang mereka tunggu adalah uluran tangan kita. Karena itu, mari kita belajar untuk tidak terlalu berat mengeluarkan sebagian harta yang Allah titipkan kepada kita. Tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu memiliki banyak harta. Sisihkan sebagian rezeki untuk membantu sesama. Sebab, salah satu cara meneladani Rasulullah adalah menjadikan tangan kita ringan untuk memberi.

Rasulullah juga memberikan teladan yang sangat indah dalam hal menghargai orang lain. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa ketika seseorang menemui Rasulullah lalu berjabat tangan dengan beliau, Rasulullah tidak segera melepaskan tangannya. Beliau menunggu sampai orang tersebut yang melepaskannya terlebih dahulu. Begitu pula ketika berbicara dengan seseorang, beliau tidak memalingkan wajah sampai orang tersebut yang memalingkan wajahnya terlebih dahulu. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَقْبَلَهُ الرَّجُلُ فَصَافَحَهُ لَا يَنْزِعُ يَدَهُ مِنْ يَدِهِ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ يَنْزِعُ وَلَا يَصْرِفُ وَجْهَهُ عَنْ وَجْهِهِ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ هُوَ الَّذِي يَصْرِفُهُ

“Nabi apabila seseorang menemuinya lalu berjabat tangan dengannya, beliau tidak melepaskan tangannya dari orang tersebut sampai orang itu yang melepasnya. Nabi juga tidak memalingkan wajahnya dari wajah orang tersebut sampai ia sendiri yang memalingkannya.” (HR. At-Tirmidzi).

Begitulah Rasulullah memperlakukan orang lain. Beliau tidak membuat seseorang merasa kecil. Beliau tidak tergesa-gesa ketika berhadapan dengan orang lain. Bahkan dalam sebuah jabat tangan dan tatapan wajah, beliau menunjukkan penghormatan yang begitu dalam. Dari sini kita belajar bahwa menghargai orang lain tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Kadang cukup dengan mendengarkan ketika orang lain berbicara, memberi perhatian, tidak sibuk dengan urusan sendiri, tidak memalingkan wajah, dan membuat orang yang berada di hadapan kita merasa bahwa dirinya dihargai.

Maka, di bulan Maulid ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah akhlak Rasulullah terlihat dalam kehidupan kita? Sudahkah lisan kita lebih santun? Sudahkah hati kita lebih mudah memaafkan? Sudahkah tangan kita ringan untuk membantu? Sudahkah kita belajar menghargai orang lain? Jika jawabannya belum, maka jangan biarkan bulan Maulid berlalu begitu saja. Jangan hanya menjadikannya momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah.

Jadikanlah bulan ini sebagai kesempatan untuk mulai berubah. Mulailah dari hal-hal sederhana: kurangi ucapan yang menyakiti, tahan amarah, mudah membantu, belajar memaafkan, dan biasakan menghargai orang lain. Jika sebagian akhlak itu sudah kita lakukan, jangan pula kita merasa telah sempurna. Teruslah memperbaikinya. Sebab, menjadi umat yang mencintai Rasulullah bukan hanya tentang seberapa sering kita menyebut nama beliau, tetapi juga tentang seberapa jauh kita berusaha mengikuti akhlak beliau. Semoga Allah menjadikan kita umat yang benar-benar mencintai Rasulullah.

Cinta yang tidak hanya terucap melalui lisan, tetapi juga terlihat dalam akhlak dan perbuatan. Semoga shalawat yang kita lantunkan menjadi dorongan bagi kita untuk mengikuti jalan hidup beliau. Dan semoga pada hari kiamat nanti, kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaat Rasulullah saw.

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


 

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ



Maulid Tiba, Jaga Akhlak Generasi Muda

 

Maulid Tiba, Jaga Akhlak Generasi Muda

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ . فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ 

Saat ini, kita sedang berada di bulan Rabiul Awwal yang di Indonesia lebih sering disebut sebagai bulan Maulid. Disebut demikian memang karena dalam bulan ini terjadi sebuah kejadian agung yakni kelahiran Nabi Muhammad saw. Sosok paling mulia di dunia, sosok yang kita diperintahkan untuk senantiasa bershalawat untuk meraih syafaatnya. Bukan hanya kita saja yang bershalawat, Malaikat dan Allah swt pun bershalawat kepada beliau. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 56: 

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا 

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. 

Kehadiran Nabi Muhammad ke dunia ini membawa sebuah misi penting di antaranya adalah memperbaiki akhlak manusia. Misi ini menandakan bahwa akhlak menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia karena itulah yang akan membawa perdamaian dan ketentraman dalam setiap interaksi manusia dengan lingkungan sekitar. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Baihaqi, dan Hakim: 

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخَلاقِ 

“Sungguh aku diutus menjadi Rasul untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” 

Akhlak menjadi bagian utama dalam bangunan kepribadian seorang muslim sehingga para ulama menyebut bahwa “Al-Adabu fauqal ilmi’. Bahwa adab, tatakrama, akhlak, di atas ilmu yang dalam artian harus didahulukan untuk dimasukkan dalam diri setiap muslim. Dalam pendidikan pun sudah seharusnya mengedepankan aspek afektif (sikap dan karakter) dibanding aspek kognitif (kepintaran otak). Maka itu fungsi guru dan orang tua yang paling utama adalah mendidik agar generasi muda menjadik baik. Bukan hanya mengajar untuk menjadikan generasi muda menjadi pintar. 

Pendidikan karakter dan akhlak generasi muda di era saat ini menjadi sangat dan sangat penting. Hal ini karena tantangan dan godaan zaman di tengah perkembangan teknologi semakin menjadi-jadi. Akibat perkembangan teknologi dan informasi saat ini, ancaman terhadap degradasi moral sangat terlihat di depan mata. Kita lihat bagaimana saat ini akhlak para pemuda sudah mulai tereduksi akibat gaya hidup digital di zaman modern. Kejadian tindakan kriminal, asusila, kurangnya kepedulian sosial dan menurunnya rasa sosial-kemanusiaan yang dilakukan dan dimiliki generasi muda mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini kita rasakan mereka lebih asik bermain di dunia maya dengan ponselnya dari pada bersosialisasi di dunia nyata. Kebiasaan berkomentar di media sosial yang tak melihat dengan siapa ia berbicara, terbawa dalam kehidupan nyata. Sehingga bisa dirasakan mereka menyamakan antara berbicara dengan teman dan berbicara dengan orang tua. 

Gampangnya berkomunikasi, berinteraksi, dan mencari informasi juga sedikit demi sedikit menjadikan para generasi muda menggampangkan berbagai hal. Ini berdampak kepada sikap malas dan mudah menyerah pada tantangan permasalahan yang dihadapi. Mereka terdidik dengan hasil yang instan tanpa perjuangan berat dan menghilangkan etos perjuangan serta sikap tak kenal menyerah. 

Fenomena-fenomena ini patut direnungi oleh kita dan para orang tua pada umumnya. Momentum Maulid Nabi Muhammad saw menjadi saat yang tepat untuk kembali memperkuat penjagaan pada akhlak generasi penerus. Perlu dipantau aktivitas mereka saat memegang handphone agar akhlak bisa benar-benar terjaga. Akhlak menjadi barometer apakah seseorang menjadi insan terbaik atau tidak. Bukan kepintaran yang menjadi barometer!. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Thabrani dari Ibnu Umar: 

خَيْرُ النَّاسِ أحْسَنُهُمْ خُلُقًا 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.” 

Sudah saatnya di bulan Maulid ini kita kembali meneladani akhlak Nabi yang merupakan suri tauladan terbaik sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-ahzab ayat 21: 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ 

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” 

Selain menjadikan Maulid sebagai momentum menjaga akhlak generasi muda, mari jadikan bulan Maulid ini sebagai kesempatan meningkatkan kuantitas dan kualitas shalawat dan cinta kita kepada Nabi Muhammad. Perbanyak shalawat, insyaallah hidup menjadi nikmat karena mendapat syafaat di hari kiamat. 

Syafaat dari Nabi Muhammad menjadi hal yang sangat penting untuk kita raih. Karena kita tidak tahu ibadah mana yang akan diterima di sisi Allah. Menurut kita kuantitas dan kualitas ibadah sudah maksimal, namun belum tentu di sisi Allah swt. Sehingga kita perlu senantiasa berdoa untuk meraih rahmat dari Allah serta perbanyak bershalawat kepada Nabi untuk meraih syafaatnya. 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan ada seorang sahabat yang mengadu kepada Nabi. Ia merasa tidak rajin dalam menjalankan ibadah namun punya modal kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jawaban Nabi pun sangat menggembirakan. Nabi mengatakan sahabat tersebut akan dikumpulkan bersama Nabi di hari kiamat. 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ   

"Dari sahabat Anas, sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, kapan hari kiamat terjadi ya Rasul? Nabi bertanya balik, apa yang telah engkau persiapkan? Ia menjawab, aku tidak mempersiapkan untuk hari kiamat dengan memperbanyak shalat, puasa dan sedekah. Hanya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Nabi berkata, engkau kelak dikumpulkan bersama orang yang engkau cintai. (HR Al-Bukhari dan Muslim). 

Semoga kita bisa meneruskan dan mewujudkan misi Nabi kepada para generasi muda yakni menjadikan akhlak mulia sebagai sendi-sendi peradaban kehidupan manusia. Semoga kita senantiasa bisa meneladani akhlak Nabi dan kita akan menjadi umatnya yang mendapatkan syafaatnya dan masuk dalam surganya Allah swt.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم 

Bulan Maulid dan Momentum Kemerdekaan

 

Bulan Maulid dan Momentum Kemerdekaan

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَعَزَّ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَذَلَّ الْكَافِرِيْنَ، وَنَصَرَ عِبَادَهُ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَجَعَلَ فِي طَاعَتِهِ سَعَادَةَ الْمُتَّقِيْنَ، وَفِي عِصْيَانِهِ هَلَاكَ الظَّالِمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِلٰهُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ الطَّاهِرِينَ، وَأَصْحَابِهِ الرَّاشِدِينَ، وَمَنْ سَارَ عَلَىٰ دَرْبِهِمْ وَاتَّبَعَ نَهْجَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِفَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَقَدْ قَالَ: لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

Pada saat ini, kita telah memasuki bulan Rabiul Awal, bulan yang disebut oleh umat Islam sebagai bulan Maulid, bulan yang penuh dengan momentum untuk mengenang kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad . Maulid Nabi bukan hanya menjadi waktu untuk mengingat sejarah kelahiran Rasulullah . Namun, yang lebih penting, Maulid menjadi momentum bagi kita untuk menghidupkan kembali kecintaan kepada Rasulullah dan meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT telah berfirman dalam QS. Al-Ahzab. Ayat 21

 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”

Maka, jika kita mengaku mencintai Rasulullah , pertanyaannya: sudah berapa banyak akhlak Rasulullah yang kita teladani? Rasulullah adalah pribadi yang jujur, amanah, penuh kasih sayang, sabar, adil, dan senantiasa mengupayakan kebaikan bagi sesama. Maka, Maulid harus menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak kita. Jangan hanya ramai ketika membaca salawat, tetapi setelah itu kita harus menjadi lebih jujur. Jangan hanya senang menyebut nama Nabi, tetapi kita harus lebih menyayangi orang lain. Jangan hanya menghormati Rasulullah dengan lisan, tetapi kita harus menghormati ajarannya melalui perbuatan.

Pada bulan ini kita juga sedang merasakan momentum kemerdekaan bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang kita rasakan sekarang tidak datang secara tiba-tiba. Ada perjuangan, pengorbanan, darah, air mata, dan doa dari para leluhur serta para pahlawan.

 

Para ulama dan santri juga memiliki peran besar dalam perjuangan bangsa. Maka, sebagai generasi penerus, kita harus mampu mengisi kemerdekaan ini dengan berbagai hal yang bermanfaat. Kemerdekaan sejatinya bukan hanya bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti bebas untuk melakukan kebaikan, bebas menuntut ilmu, bebas membangun masyarakat, dan bebas beribadah kepada Allah dengan tenteram. Namun, kita harus ingat bahwa kemerdekaan juga merupakan amanah dan tanggung jawab. Allah SWT telah memberikan peringatan:

 وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ

 “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash ayat 77)

Maka, jangan sampai kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan justru diisi dengan kemaksiatan, perselisihan, korupsi, fitnah, ujaran kebencian, dan tindakan yang merusak persatuan. Jika kita menyatukan makna Maulid Nabi dan kemerdekaan, kita dapat menemukan pelajaran yang sangat besar. Rasulullah mengajarkan kita tentang akhlak dan persatuan. Kemerdekaan mengajarkan kita tentang rasa syukur dan tanggung jawab. Rasulullah memberikan teladan agar umatnya menjadi umat yang bermanfaat. Maka, di zaman kemerdekaan ini, kita harus menjadi warga bangsa yang bermanfaat.

Orang Islam harus mampu menjadi orang yang menjadikan lingkungan tenteram. Jika terjadi perselisihan, kita menjadi orang yang mendamaikan. Jika ada kesusahan, kita menjadi orang yang membantu. Jika ada kebodohan, kita menjadi orang yang menyebarkan ilmu. Jika ada kemiskinan, kita membangun kepedulian. Dan jika terjadi perpecahan, kita harus menjadi orang yang menjaga persatuan. Bangsa yang besar tidak hanya diukur dari gedung-gedung yang tinggi, jalan yang bagus, atau teknologi yang maju. Namun, juga diukur dari akhlak masyarakatnya, kerukunannya, kejujurannya, dan kepeduliannya terhadap sesama. Maka, di bulan Maulid dan momentum kemerdekaan ini, marilah kita bersama-sama memperbaiki diri.

Pertama, kita tingkatkan iman dan takwa. Kedua, kita teladani akhlak Rasulullah . Ketiga, kita menghormati jasa para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan melalui amal yang bermanfaat. Keempat, kita menjaga persatuan dan kerukunan. Kelima, kita mendidik putra-putri kita agar menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, mencintai agama, dan mencintai bangsa.

Semoga Indonesia senantiasa diberikan keamanan, ketenteraman, kemakmuran, dan keberkahan. Semoga para pahlawan bangsa, para ulama, dan para pejuang yang telah wafat diberikan tempat yang mulia di sisi Allah SWT.  

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِۙاِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ .أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Memasuki Bulan Maulid, Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Rasulullah

  Memasuki Bulan Maulid, Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Rasulullah   اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَ...