Minggu, 30 Agustus 2026

Berkahnya Anak Shalih

 

Berkahnya Anak Shalih

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ المحمودِ عَلَى كُلِّ حَالٍ الموصوفِ بِصِفَاتِ الْكَمَالِ وَالْجَلَالِ , لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُوْلَى وَالآخِرَةِ وَإِلَيْهِ الرَجْعَى وَالمَآلِ, وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهٌ وَحَدْهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الكَبِيْرُ المُتَعَالُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى الصَحْبِ وَالآلِ .أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ سُبْحَانَهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ

Ketahuilah bahwa Allah mempersiapkan kegembiraan yang besar bagi orangtua yang biasa-biasa saja, bahkan mungkin ibadahnya juga biasa-biasa saja, tetapi bisa saja  dia memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah kelak di dalam syurga. Tentu saja para orang tua kaget dengan karunia-karunia Allah yang sangat besar di dalam syurga. Karunia ini dikarenakan doa dan perilaku baik anak-anaknya. Rasulullah saw, bersabda :

إِنَّ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِى الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَنَّى لِى هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ. (رواه الطبرانى(

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla benar-benar akan meninggikan derajat untuk hamba yang shalih di dalam surga, maka mereka bertanya,”Wahai Tuhan, apakah ini semua untukku ?, Maka Allah menjawab,” (ya) karena permohonan ampunan anak-anakmu kepadamu.” (HR. Thabarani).

Mudah saja bagi Allah untuk memberikan karunia berupa derajat, yang tinggi kepada para orang tua, karena Allah akan menghargai setiap jerih payah orangtua yang memampukan anak-anaknya mengenal Allah, mengenal perintah Allah dan menggerakkan hatinya untuk bertaqwa kepada Allah serta senantiasa memohon ampunan kepada Allah untuk para orang tuanya.

Hal tersebut bisa dimengerti karena sesungguhnya peninggalan yang terbaik bagi setiap orang ketika mati adalah amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih. Ketiga hal inilah yang sangat mungkin akan mengalirkan pahala. Nabi bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia mati, maka terputuslah (pahala) amalnya, kecuali yang bersumber dari tiga hal, yaitu shadaqa hjariyah, ‘ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim).

Yang demikian ini tidak terlepas dari kewajiban orang tua untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ۝٦

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim Ayat: 6).

Tuhanpun telah mengajarkan kepada setiap anak-anak suatu permohonan untuk orang tuanya antara lain Adalah:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ ۝٢٤

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya,  sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Q.S. Al-isra’ Ayat: 24).

Termasuk kebaikan anak kepada orang tuanya adalah berterima kasih kepada mereka. Tentu saja wujud berterimakasih kepada mereka adalah dengan senantiasa membuat mereka senang, menaati perintah-perintahnya serta berbuat kebajikan menurut ketentuan syari’atNya. Allah berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ ۝١٤

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbua tbaik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman Ayat14).

Agar anak-anak kita mau memohonkan ampunan bagi orang tuanya tentu orang tua harus memberikan pengertian yang cukup kepada anak-anaknya bahwa kebutuhan yang sangat penting bagi setiap orang tua adalah doa’ dan kebaikan anak-anak yang bisa menjadi bahan pertimbangan Allah untuk memberikan kebaikan kepada para orang tua setelah wafat.

Tentu saja hal ini bisa dimengerti bahwa kebaikan yang dilakukan anak-anaknya merupakan buah dari kebaikan orangtuanya, sehingga pantas orang tua menerima ganjaran dari Allah SWT. Kita mungkin tidak bisa mengirim ganjaran kepada mereka,. Hal ini bisa dimengerti karena manusia tidak memiliki apa-apa, yang memiliki ganjaran atau pahala dan ampunan adalah Allah SWT. Tetapi karena kebaikan-kebaikan dan doa anak-anaknya itulah, Allah memberikan ganjaran kepada para orang tua. Dan dikarenakan permohonan ampunan anak untuk orangtuanya, Allah berkuasa memberikan ampunan kepada para orangtua, sehingga dosa-dosanya diampuni dan ditempatkan di tempat yang sebaik-baiknya, yaitu syurga.

Hal tersebut mudah bagi Allah , karena Allah akan menghargai setiap jerih payah orang tua yang mendidik anak-anaknya untuk mengenal Allah, mengenal perintah-perintah Allah dan menggerakkan hatinya untuk bertaqwa kepada Allah serta memohonkan ampunan kepada Allah untuk para orang tuanya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

 

HUT Ke-81 RI (Senin, 17 Agustus 2026)

 


HUT Ke-33 Kota Mataram (Senin, 31 Agustus 2026)



 

ToT Numerasi Guru MI Se-Kota Mataram di Balatkop NTB (26-29 Agustus 2026)

 




















 


Senin, 17 Agustus 2026

Merawat Kemerdekaan

 

Merawat Kemerdekaan


اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ: لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ، كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ، بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (سورة سبأ: ١٥(

Setiap tanggal 17 Agustus, kita akan memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukanlah pemberian dari siapa pun. Bukan pula hadiah dari penjajah. Juga tidak dibantu oleh negara mana pun. Kemerdekaan yang diraih oleh bangsa ini murni adalah rahmat Allah yang diikhtiarkan melalui perjuangan berdarah-darah serta pengorbanan nyawa dan harta dari para pendahulu kita. Sungguh benar apa yang dinyatakan dalam pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Para pahlawan dan pejuang kemerdekaanlah yang mengerahkan daya upaya dan ikhtiar, dan Allah-lah yang menentukan dan memberikan kemenangan. Allah adalah pencipta segala sesuatu. Allah yang menghendaki terjadinya segala sesuatu. Allah-lah yang mencurahkan dan menganugerahkan rahmat kemerdekaan kepada kita semua.

وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Allahlah sendirian yang mengalahkan semua musuh”

Alhamdulillah, ikhtiar para pendahulu kita diiringi rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga kemenangan dan kemerdekaan pada akhirnya dapat diraih. Mudah-mudahan para pahlawan yang telah berjuang untuk Islam dan Indonesia di bumi nusantara yang telah gugur mendahului kita memperoleh balasan pahala yang berlipat ganda dari Allah ta’ala.

Kemerdekaan adalah rahmat dari Allah dan merupakan nikmat bagi kita semua. Jika kita terus bersyukur atas nikmat kemerdekaan dan nikmat-nikmat Allah lainnya, maka Allah akan menambahkan nikmat-nikmat-Nya sebagaimana yang Allah firmankan:


لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (سورة إبراهيم: ٧(

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian. Tetapi jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS Ibrahim: 7).

Mensyukuri nikmat adalah dengan tidak menggunakannya dalam bermaksiat kepada Allah. Kita syukuri nikmat kemerdekaan ini dengan melakukan berbagai kebaikan dan berbuat baik kepada orang lain. Kita syukuri kemerdekaan ini dengan melaksanakan semua kewajiban dan menjauhi seluruh larangan Allah. Kita lakukan tugas dan kewajiban kita sebagai ayah, ibu, anak, sebagai suami, istri, sebagai guru, murid, sebagai pejabat, rakyat, sebagai orang yang hidup bertetangga, sebagai orang yang hidup bermasyarakat dan sebagai orang yang hidup berdampingan dengan umat agama lain. Jika masing-masing dari kita telah mengetahui, memahami dan melakukan tugas dan kewajibannya sebagaimana mestinya, maka negara ini akan senantiasa aman dan sentosa. 

Kemerdekaan adalah nikmat yang menjadikan kita terbebas dari berbagai belenggu. Nikmat kemerdekaan adalah pintu yang membuka nikmat-nikmat yang lain. Dengan nikmat kemerdekaan, kita dapat merasakan nikmatnya beribadah dengan leluasa. Dengan nikmat kemerdekaan, kita dapat merasakan nikmatnya belajar dan mengajar. Dengan nikmat kemerdekaan, kita dapat menikmati kebersamaan kita sebagai saudara-saudara seagama, saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Dan dengan nikmat kemerdekaan, kita bisa membangun negeri ini secara bersama-sama.  

Oleh karena itulah, kita rawat dan lestarikan nikmat kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai nikmat yang agung ini terlepas dari kita. Bagaimana cara merawat dan melestarikannya? Dengan cara terus membangun negeri ini dan memperbaikinya . Kita mulai dengan membangun dan memperbaiki diri dan keluarga kita. Lalu meluas ke masyarakat. Ibarat sebuah bangunan, maka Indonesia terdiri dari banyak sekali batu-bata dan komponen-komponen lainnya. Kita dan keluarga kita adalah salah satu dari batu-bata negeri ini. Jika semua batu-bata dan komponen lainnya baik dan kuat, maka bangunan negeri ini akan kuat. Sebaliknya, jika ada satu saja atau beberapa batu-bata yang rapuh, maka bisa jadi hal itu akan berakibat rapuhnya bangunan seluruh negeri, bahkan bisa menjadikan seluruh bangunan menjadi runtuh. 

Negeri ini tidak hanya berupa wilayah geografis, yaitu tanah, air dan udara semata. Tapi lebih dari itu, negeri ini juga mencakup manusia yang merupakan penduduk negeri yang di tangan merekalah nasib negeri ini akan seperti apa. Oleh karena itu, kita utamakan membangun manusia daripada membangun yang lain. Karena sendi dan tiang penyangga dari bangunan negeri ini tiada lain adalah akhlak karimah. Lalu apa gerangan fondasi dari bangunan negeri ini? Fondasinya adalah paham dan haluan yang moderat. Ya, paham dan haluan yang moderat dalam politik, ekonomi, pendidikan dan lain-lain, terutama paham, pandangan dan haluan yang moderat dalam keagamaan. 

Islam memerintahkan kita agar berpaham moderat (wasathiyyah), tidak ghuluww (melampaui batas yang digariskan Islam) dan tidak taqshir (ceroboh sehingga tidak sampai pada batas yang digariskan Islam), tidak ekstrem kanan dan tidak ekstrem kiri. Paham keagamaan yang moderat adalah paham yang diajarkan dan disampaikan oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dan diyakini oleh mayoritas umat Islam dari masa ke masa. Paham inilah yang harus selalu kita junjung tinggi jika kita ingin membangun negeri ini. Karena fakta sejarah membuktikan bahwa pemikiran dan paham yang ghuluww, taqshir, dan ekstrem telah memporak-porandakan dan meluluhlantakkan berbagai negara. Contoh konkretnya di masa sekarang adalah Irak, Suriah, Afghanistan dan lain-lain. Jangan sampai Indonesia menjadi Irak atau Suriah kedua. Paham takfir syumuli (pengafiran menyeluruh kepada semua orang yang tidak sepaham), paham pengafiran terhadap pemerintah yang tidak berhukum dengan hukum Islam dan menuduhnya dengan thaghut, paham pengafiran dan pemusyrikan terhadap para pelaku tabarruk, tawassul, peringatan maulid Nabi dan ziarah makam para nabi dan wali, semua itu telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara di berbagai belahan dunia. Hal itu juga telah merenggut kemerdekaan dari banyak orang. Akibat paham-paham ekstrem tersebut, banyak orang yang tidak bisa lagi menikmati kebebasan dan kemerdekaan dalam banyak hal. Lebih-lebih lagi, apabila paham dan pemikiran ekstrem tersebut dituangkan dalam aksi-aksi pengeboman, perusakan fasilitas umum dan pembunuhan serta penyembelihan orang-orang yang dianggap musyrik dan kafir. 

Jika kita mencintai negeri ini, jika kita cinta tanah air ini, maka buktikan cinta itu. Jangan hanya cinta yang terucap di bibir saja. Tapi cinta yang benar-benar cinta. Yaitu cinta yang senantiasa mendorong kita untuk terus membangun dan memperbaiki negeri ini. Kita bangun dan perbaiki negeri ini dengan menjadi pribadi-pribadi yang shalih. Yaitu pribadi-pribadi yang berilmu, beramal dan penuh dedikasi untuk membangun negeri. Pribadi-pribadi yang shalih akan melahirkan keluarga-keluarga yang shalih. Dan keluarga-keluarga yang shalih akan mewujudkan masyarakat yang shalih. Jadi keshalihan individu akan mewujudkan keshalihan sosial. Keshalihan sosial akan menjadikan negeri ini aman, sentosa dan sejahtera. Dengan keshalihan sosial, segala bentuk kejahatan akan terputus. Dan satu lagi, jangan pernah bosan untuk terus mengampanyekan paham-paham Ahlussunnah yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin. Paham moderatlah yang akan menjadikan Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Makna Kemerdekaan Hakiki

 

Makna Kemerdekaan yang Hakiki dalam Islam

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلىَ عَبْدِهِ الْكِتَابَ تَبْصِرَةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ، الَّذِي خَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلىَ خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَنْجَابِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْأَحْبَابُ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْوَهَّابِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

​​​​​​​            Setiap kali kita memasuki bulan Agustus, kita kembali diingatkan pada sebuah nikmat besar yang bernama kemerdekaan. Dengan kemerdekaan, kita dapat hidup dengan aman, beribadah dengan tenang, bekerja, belajar, dan menentukan masa depan bangsa sendiri. Tetapi tanpa kemerdekaan, kita tidak akan merasakan semua itu. Al-Qur’an pernah memberikan gambaran perihal perjuangan manusia yang tertindas pada masa Nabi Musa AS, perihal bagaimana Bani Israil yang berada di bawah kekuasaan Firaun diperlakukan dengan kejam, sewenang-wenang, dilemahkan, bahkan anak laki-laki mereka dibunuh. Dalam keadaan itulah Allah kemudian memberikan pertolongan dan membebaskan mereka dari penindasan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: 

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

 “Kami berkehendak untuk memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, menjadikan mereka para pemimpin, dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (QS. Al-Qashash: 5).

Meski ayat ini berbicara tentang Bani Israil dan pertolongan Allah kepada mereka dari penindasan Firaun, di dalamnya terdapat sebuah pesan penting yang sangat relevan dengan momentum peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 ini, bahwa Islam tidak membenarkan adanya penindasan, serta menegaskan bahwa terbebas darinya merupakan sebuah karunia besar dari Allah. Namun apa makna kemerdekaan yang hakiki dalam Islam? 

Syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi menjelaskan bahwa kemerdekaan hakiki dalam Islam setidaknya dapat dimaknai sebagai dua pengertian. Pertama, kemerdekaan fisik, yaitu ketika seseorang memiliki kebebasan untuk menentukan sikap dan tindakannya tanpa adanya paksaan maupun penindasan dari pihak lain. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Ramadhan al-Buthi dalam kitab Hurriyatul Insan fi Dlilli Ubudiyatihi Lillah, halaman 21-22, ia mengatakan:

 قَدْ يُرَادُ بِالْحُرِّيَّةِ أَنْ يَمْلِكَ الْإِنْسَانُ إِصْدَارَ قَرَارَاتِهِ السُّلُوْكِيَّةِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ بِمُقْتَضَى إِرَادَتِهِ الشَّخْصِيَّةِ دُوْنَ أَنْ يُعَارِضَهُ أَيُّ قَسْرٍ مِنْ أَشْخَاصِ أَمْثَالِهِ

 

Kemerdekaan terkadang dimaksudkan sebagai kemampuan seseorang untuk menentukan keputusan perilakunya yang berkaitan dengan dirinya sendiri berdasarkan kehendak pribadinya, tanpa adanya paksaan dari orang lain yang sejenis dengannya.”

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kemerdekaan fisik pada dasarnya memberikan ruang kepada kita semua untuk dapat menentukan kehidupan kita sendiri tanpa berada di bawah paksaan orang lain. Kemerdekaan fisik ini mencakup terbebasnya manusia dari berbagai bentuk penjajahan, penindasan, paksaan, perbudakan, dan kesewenang-wenangan pihak lain.

Sehingga dengan kemerdekaan tersebut, kita bisa bebas menentukan tempat tinggal dan pekerjaan tanpa paksaan dari pihak lain, kita juga bebas menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa adanya ancaman, bahkan kita juga bebas menyampaikan pendapat tanpa intimidasi, serta bebas memperoleh hak-hak dasar seperti pendidikan, keamanan, dan perlindungan hukum.

Kemudian yang kedua, yaitu kemerdekaan secara non-fisik, yaitu kemampuan manusia untuk mengendalikan dirinya sendiri, serta menyelaraskan keputusan akal dengan keinginan jiwa, sehingga muncullah keputusan yang tidak didasari oleh hawa nafsu. Hal ini sebagaimana penjelasan lanjutan Syekh Said Ramadhan al-Buthi, yaitu:

 وَقَدْ يُرَادُ بِهَا أَنْ يَمْلِكَ الْإِنْسَانُ التَّوْفِيْقَ بَيْنَ قَرَارَاتِهِ الْعَقْلِيَّةِ وَرَغَائِبِهِ النَّفْسِيَّةِ

 “Kemerdekaan juga dapat dimaksudkan sebagai kemampuan seseorang untuk menyelaraskan keputusan akalnya dengan keinginan jiwanya.”

Kemerdekaan nonfisik mencakup kemampuan seseorang untuk mengendalikan hawa nafsu, menahan amarah, mengendalikan keserakahan, serta mengendalikan ego ketika berhadapan dengan orang lain. Kemerdekaan ini lebih dalam maknanya daripada kemerdekaan fisik. Sebab, seseorang bisa saja merdeka dari penjajahan dan tekanan manusia, tetapi jika hidupnya masih dikendalikan oleh amarah, serakah, iri hati, atau lainnya, maka pada hakikatnya ia belum sepenuhnya merdeka.

Oleh sebab itu, Al-Qur’an mengingatkan agar kita tidak menjadikan hawa nafsu sebagai pengarah diri, karena jika ia dibiarkan menguasai diri kita, ia dapat menjerumuskan kita ke jalan yang salah. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:

 وَلا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

 “Dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26).

            ​​​​​​​Dari sini kita dapat memahami bersama, bahwa kemerdekaan secara hakiki memiliki dua aspek. Pertama, merdeka secara fisik. Kedua, merdeka secara nonfisik. Kemerdekaan pertama membuat manusia tidak hidup di bawah penjajahan dan kesewenang-wenangan manusia lain. Sedangkan kemerdekaan yang kedua membuat manusia tidak menjadi budak dari keinginan dirinya sendiri. Namun, pertanyaannya sekarang, sudahkah kita benar-benar merdeka? Sudahkah kita terbebas dari penindasan pihak lain, dari kesewenang-wenangan pemerintah, dari perlakuan tidak adil, dan dari segala bentuk tekanan yang merampas hak rakyat? Atau, sudahkah kita merdeka dari penindasan yang berasal dari dalam diri kita sendiri, seperti hawa nafsu, keserakahan, amarah, iri hati, dan keinginan untuk selalu mengikuti apa yang kita sukai?

Jika belum, sudah saatnya momentum kemerdekaan ini membangkitkan semangat kita dengan dua cara berikut ini: (1) melawan segala bentuk kezaliman, dan (2) melatih mengendalikan hawa nafsu agar kita tidak menjadi budak keinginan sendiri. Dengan demikian, kemerdekaan tidak hanya kita nikmati sebagai sebuah bangsa, tetapi juga sebagai pribadi yang mampu hidup dengan bermartabat dan luhur. 

Demikian adanya khutbah Jumat perihal makna kemerdekaan yang hakiki dalam Islam yang perlu kita renungkan bersama. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Berkahnya Anak Shalih

  Berkahnya Anak Shalih اَلْحَمْدُ لِلَّهِ المحمودِ عَلَى كُلِّ حَالٍ الموصوفِ بِصِفَاتِ الْكَمَالِ وَالْجَلَالِ , لَهُ الْحَمْدُ فِي ال...