Rabu, 02 September 2026

Maulid Nabi Kelahiran Sang Pembawa Rahmat

 

Maulid Nabi Kelahiran Sang Pembawa Rahmat

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُه. خَيْرَ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ. أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَـمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Bulan ini adalah bulan Rabiul Awal, bulan mulia di mana penutup para nabi dan rasul dilahirkan ke dunia ini. Ya, beliaulah Baginda Besar Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam. Nabi akhir zaman, tidak ada lagi nabi-nabi setelahnya. Di bulan Maulid ini, seyogianya bagi kita untuk banyak-banyak bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena telah mengutus seorang nabi yang menjadi suri teladan yang mulia. Nabi diutus ke muka bumi ini tak lain adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah al-Anbiya ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Imam al-Baidhawi dalam kitab tafsirnya menyebutkan sebab disebutnya pengutusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam sebagai rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam ialah karena diutusnya Nabi ke seluruh dunia di muka bumi ini menjadi sumber kebahagiaan dan kebaikan bagi kehidupan mereka di dunia maupun di akhirat kelak. Imam Ibnu ‘Abbas menyebutkan dalam tafsirnya, siapa yang menerima ajaran kasih sayang yang dibawa Nabi dan mensyukurinya, maka ia akan bahagia hidupnya. Sebaliknya, siapa yang menolak dan menentangnya, maka merugilah hidupnya.

Kasih sayang yang ditebarkan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bukanlah hanya ucapan semata, akan tetapi dalam hidup keseharian beliau praktikkan dan implementasikan dengan nyata. Kasih sayang ini bentuknya universal kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Bahkan kepada orang musyrik pun Nabi Saw berlaku santun dan mengasihi. Tidakkah kita mengingat bagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam ketika hijrah ke Thaif untuk menghindari permusuhan dari kaumnya, namun ternyata di sana malah mendapat perlakuan yang kasar dan permusuhan yang lebih parah hingga Nabi dilempari batu.

Kala itu, malaikat penjaga gunung menawarkan kepada Nabi, apabila dibolehkan maka ia akan membenturkan kedua gunung di antara kota Thaif, sehingga orang yang tinggal di sana akan wafat semua. Namun apa sikap Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam? Nabi berucap andai mereka saat ini tidak menerima Islam, semoga anak cucu mereka adalah orang yang menyembah-Mu ya Allah! Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak tahu... Dikisahkan juga dalam hadis riwayat Shahīh Muslim, pada suatu hari, datang seorang sahabat berkata kepada Nabi, “Wahai Nabi! Doakanlah keburukan atau laknat bagi orang-orang musyrik. Kemudian Nabi menjawab, “Sungguh, aku tidaklah diutus sebagai seorang pelaknat, akan tetapi aku diutus sebagai rahmat!”

Di antara sifat mulia Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam yang perlu kita teladani juga adalah sifat pemaafnya. Ingatlah kisah ketika Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam perang Uhud bersama kaum Muslimin, kala itu pamannya, Hamzah bin Abdul Muthallib ikut berperang. Di tengah peperangan, pamannya terbunuh oleh Wahsyi, seorang budak berkulit hitam. Wahsyi tidak hanya membunuhnya dengan menghunuskan pedang begitu saja dan selesai, namun ia mencabik-cabik isi perutnya juga.

Hal ini membuat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam sangat sedih, sakit hati dan marah. Bayangkan! Paman yang begitu dicintainya wafat dengan cara mengenaskan seperti itu. Akan tetapi, ketika Wahsyi menyatakan diri di hadapan Nabi untuk masuk Islam, Nabi pun memaafkannya, meski beliau tidak mau melihat wajah Wahsyi lagi sebab akan terus mengingatkannya kepada peristiwa terbunuhnya pamannya. Mengenai sifat memaafkan, sungguh Allah telah berfirman dalam surat Al-A’raf Ayat 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”

Apabila kita menjadi pribadi yang memiliki sifat pemaaf, maka dapat kita rasakan lingkungan sosial di tengah-tengah masyarakat menjadi damai, tidak ada dendam yang terjadi di antara manusia. Itulah kasih sayang yang dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam.

Semoga di bulan Maulid ini kita dapat meneladani sifat dan akhlak mulia Rasulullah, yang mana dalam mencontoh dan menerapkan akhlaknya terdapat kemaslahatan yang akan kita dapatkan, baik di dunia maupun di akhirat.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ  ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ  فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

 

Memasuki Bulan Maulid, Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Rasulullah

 

Memasuki Bulan Maulid, Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Rasulullah

 اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ، وَجَعَلَ فِيْهِ مَنَاهِجَ الْهِدَايَةِ لِلنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، صَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Saat ini kita berada di bulan Rabiul Awal, bulan yang selalu mengingatkan kita kepada sosok manusia paling mulia, Nabi Muhammad saw. Di bulan ini, nama Rasulullah kembali sering disebut. Shalawat dilantunkan. Kisah kelahiran dan perjuangan beliau dibacakan. Majelis-majelis maulid kembali semarak. Semua itu merupakan ungkapan cinta kita kepada Rasulullah saw. Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama: sejauh mana cinta itu benar-benar terlihat dalam kehidupan kita? Sebab, mencintai Nabi tidak cukup hanya dengan ucapan. Kita boleh rajin bershalawat, membaca kisah kehidupan beliau, dan menghadiri majelis-majelis maulid. Tetapi jika lisan kita masih mudah menyakiti orang lain, jika kita masih mudah marah, jika kita sulit memaafkan, dan jika kita masih berat membantu orang yang membutuhkan, maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri: di mana letak cinta kita kepada Rasulullah?

Cinta yang sejati selalu melahirkan keinginan untuk mengikuti. Ketika kita mencintai seseorang dan menjadikannya sebagai teladan, tentu kita ingin meniru kebaikannya. Kita ingin memiliki sifat-sifat baik yang ada pada dirinya. Begitu pula dengan cinta kepada Nabi Muhammad saw. Mencintai Rasulullah berarti berusaha mengikuti beliau, meneladani akhlaknya, menjaga ucapan, memperbaiki perilaku, dan menghadirkan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga ditegaskan Allah Swt. ketika ada manusia yang mengaku mencintai-Nya. Pengakuan cinta itu tidak cukup hanya dengan kata-kata. Allah menunjukkan bahwa bukti cinta kepada-Nya adalah mengikuti Rasulullah saw. Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31).

Memang, ayat ini berbicara tentang bukti cinta kepada Allah. Namun, di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat penting: cinta tidak cukup hanya diucapkan. Cinta harus dibuktikan dengan mengikuti yang kita cintai. Karena itu, momentum bulan Maulid seharusnya menjadi kesempatan bagi kita untuk kembali mengoreksi kecintaan kita kepada Nabi. Jangan sampai kita begitu mudah mengatakan, “Kami mencintai Rasulullah,” tetapi kita tidak sungguh-sungguh berusaha mengikuti akhlak dan keteladanan beliau.

Salah satu cara mencintai Rasulullah saw. adalah berusaha meneladani akhlaknya. Sayyidah Aisyah pernah ditanya tentang seperti apa akhlak Rasulullah saw. Jawabannya sederhana, tetapi sangat dalam. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan:

 سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا صَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

“Aku (Abu Abdillah al-Jadali) pernah bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah. Ia menjawab: ‘Beliau bukanlah orang yang berkata keji, bukan pula orang yang berbuat keji, tidak suka berteriak-teriak di pasar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan memaafkan dan berlapang dada.’” (HR. At-Tirmidzi).

Perhatikanlah akhlak Rasulullah. Nabi tidak berkata kasar. Beliau tidak suka membuat keributan. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan. Ketika disakiti, beliau memilih memaafkan. Ketika diperlakukan buruk, beliau memilih berlapang dada. Akhlak seperti inilah yang seharusnya menjadi cermin dalam kehidupan kita sehari-hari. Menjaga lisan agar tidak menyakiti, menahan diri ketika marah, tidak membalas keburukan dengan keburukan, dan belajar memaafkan dengan hati yang lapang. Akhlak Rasulullah sangat dekat dengan kehidupan kita. Ketika kita sedang marah kepada pasangan, bagaimana ucapan kita? Ketika anak melakukan kesalahan, bagaimana sikap kita? Ketika tetangga berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan, apakah kita langsung membalasnya? Ketika seseorang menyakiti hati kita, apakah kita mampu menahan diri? Di situlah cinta kepada Rasulullah diuji. Sebab, cinta kepada Nabi bukan hanya terlihat ketika kita bershalawat, tetapi juga ketika kita mampu mengikuti akhlak beliau dalam menghadapi kehidupan.

Namun, kelembutan dan kelapangan hati bukan satu-satunya akhlak Rasulullah yang patut kita teladani. Ada pula sifat Nabi yang begitu kuat melekat dalam kehidupan, yaitu kedermawanan. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan. Bahkan, kedermawanan beliau semakin besar ketika bulan Ramadhan. Imam Bukhari meriwayatkan:

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

“Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah saw. adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.”

Kedermawanan Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa rezeki yang Allah berikan bukan semata-mata untuk kita nikmati sendiri. Ada saatnya kita berbagi. Ada saudara yang membutuhkan. Ada orang yang sedang kesulitan. Ada keluarga yang mungkin sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan boleh jadi, pertolongan yang mereka tunggu adalah uluran tangan kita. Karena itu, mari kita belajar untuk tidak terlalu berat mengeluarkan sebagian harta yang Allah titipkan kepada kita. Tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu memiliki banyak harta. Sisihkan sebagian rezeki untuk membantu sesama. Sebab, salah satu cara meneladani Rasulullah adalah menjadikan tangan kita ringan untuk memberi.

Rasulullah juga memberikan teladan yang sangat indah dalam hal menghargai orang lain. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa ketika seseorang menemui Rasulullah lalu berjabat tangan dengan beliau, Rasulullah tidak segera melepaskan tangannya. Beliau menunggu sampai orang tersebut yang melepaskannya terlebih dahulu. Begitu pula ketika berbicara dengan seseorang, beliau tidak memalingkan wajah sampai orang tersebut yang memalingkan wajahnya terlebih dahulu. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَقْبَلَهُ الرَّجُلُ فَصَافَحَهُ لَا يَنْزِعُ يَدَهُ مِنْ يَدِهِ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ يَنْزِعُ وَلَا يَصْرِفُ وَجْهَهُ عَنْ وَجْهِهِ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ هُوَ الَّذِي يَصْرِفُهُ

“Nabi apabila seseorang menemuinya lalu berjabat tangan dengannya, beliau tidak melepaskan tangannya dari orang tersebut sampai orang itu yang melepasnya. Nabi juga tidak memalingkan wajahnya dari wajah orang tersebut sampai ia sendiri yang memalingkannya.” (HR. At-Tirmidzi).

Begitulah Rasulullah memperlakukan orang lain. Beliau tidak membuat seseorang merasa kecil. Beliau tidak tergesa-gesa ketika berhadapan dengan orang lain. Bahkan dalam sebuah jabat tangan dan tatapan wajah, beliau menunjukkan penghormatan yang begitu dalam. Dari sini kita belajar bahwa menghargai orang lain tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Kadang cukup dengan mendengarkan ketika orang lain berbicara, memberi perhatian, tidak sibuk dengan urusan sendiri, tidak memalingkan wajah, dan membuat orang yang berada di hadapan kita merasa bahwa dirinya dihargai.

Maka, di bulan Maulid ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah akhlak Rasulullah terlihat dalam kehidupan kita? Sudahkah lisan kita lebih santun? Sudahkah hati kita lebih mudah memaafkan? Sudahkah tangan kita ringan untuk membantu? Sudahkah kita belajar menghargai orang lain? Jika jawabannya belum, maka jangan biarkan bulan Maulid berlalu begitu saja. Jangan hanya menjadikannya momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah.

Jadikanlah bulan ini sebagai kesempatan untuk mulai berubah. Mulailah dari hal-hal sederhana: kurangi ucapan yang menyakiti, tahan amarah, mudah membantu, belajar memaafkan, dan biasakan menghargai orang lain. Jika sebagian akhlak itu sudah kita lakukan, jangan pula kita merasa telah sempurna. Teruslah memperbaikinya. Sebab, menjadi umat yang mencintai Rasulullah bukan hanya tentang seberapa sering kita menyebut nama beliau, tetapi juga tentang seberapa jauh kita berusaha mengikuti akhlak beliau. Semoga Allah menjadikan kita umat yang benar-benar mencintai Rasulullah.

Cinta yang tidak hanya terucap melalui lisan, tetapi juga terlihat dalam akhlak dan perbuatan. Semoga shalawat yang kita lantunkan menjadi dorongan bagi kita untuk mengikuti jalan hidup beliau. Dan semoga pada hari kiamat nanti, kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaat Rasulullah saw.

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


 

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ



PTS Hari Ke-1 (Senin, 21 September 2026)