Kamis, 11 Desember 2025

Mengambil Hikmah dari musibah Aceh dan Sumatra

 

Mengambil Hikmah dari musibah Aceh dan Sumatra

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِإِدْخَالِ السُرُوْرِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ النُّوْرُ الصَّبُوْرُ. وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بِحُسْنِ الْأَخْلَاقِ الْمشْهُوْرُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ ومن تبعهم بإحسان الى يوم النشور. اَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Beberapa pekan yang lalu, Negara kita berduka karena kembali terguncang oleh musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera. Gempa bumi, longsor, banjir bandang—semuanya datang silih berganti. Di tengah duka mendalam akibat banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera, umat Islam diimbau untuk menjadikan musibah ini sebagai momentum muhasabah diri. Musibah merupakan bentuk teguran Allah kepada kaum mukmin atas kekeliruan dan dosa-dosa yang kita lakukan. 

Kita melihat saudara-saudara kita kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan orang-orang tercinta. Mereka yang hidup pun kini harus bertahan dalam kondisi sulit, serba terbatas, dan penuh ketidakpastian. Berdasarkan data resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada hari Kamis, 11 Desember 2025 pukul 19.45 WIB, tercatat korban meninggal dunia 990 jiwa, 225 orang masih dalam pencarian, 5,1 ribu orang mengalami luka-luka, dan 833,9 ribu warga masih mengungsi. Selanjutnya, 52 kabupaten/kota terdampak dengan banyak kerusakan pada fasilitas, diantaranya 1,2 ribu unit fasilitas umum, 219 unit fasilitas kesehatan, 581 unit fasilitas pendidikan, 290 unit gedung/kantor, 434 unit rumah ibadah, 498 unit jembatan, dan 157,9 ribu unit rumah.

Sesungguhnya ini adalah bencana yang sangat besar. Banjir dan longsor ini menyerang banyak daerah, banyak keluarga yang tertimpa, ini semua di luar perhitungan manusia; satu hal yang mengingatkan kita bahwa musibah bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Segala sesuatu berasal dari Allah, dan kepada-Nya kita kembali…

Tetapi sebagai seorang mukmin kita tidak bisa berhenti hanya pada ucapan belasungkawa dan kesedihan.  Kita harus merenung, mengambil pelajaran, dan bangkit dengan sikap yang benar setelah semua bencana yang mengerikan ini terjadi. Karena itu Allah mengingatkan dalam QS. Al-Isra’ayat 59:

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

“Tidaklah Kami mengirimkan tanda-tanda (adzab, bencana, peristiwa besar) melainkan untuk menimbulkan rasa takut (agar manusia kembali kepada Allah).”  

Kita patut mengambil pelajaran dan kembali kepada petunjuk Allah, dan menyadari makna musibah ini seraya memperbaiki kekeliruan diri kita. Kita harus menyadari bahwa setiap bencana tidaklah datang secara tiba-tiba tetapi ada sebab-sebabnya, dan sebab yang paling utama dari terjadinya setiap bencana adalah dosa dan kekeliruan manusia sendiri. Allah SWT telah mengingatkan hal itu dalam Firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan lautan disebabkan apa yang diperbuat oleh tangan-tangan manusia. (Itu semua terjadi) agar Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”  (QS. Al-Rum: 41).

Hakikat kehidupan manusia adalah menjalani takdir Allah. Berserah diri dan menerima ketentuan-Nya dengan lapang dada adalah sikap terbaik dalam menghadapi musibah. Setiap orang beriman dituntut melakukan istirja’, yaitu mengakui bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Melalui musibah dan bencana ini, seharusnya kita semakin menyadari: betapa cepatnya kenikmatan dan keamanan yang kita rasakan bisa hilang dalam hitungan detik; rumah bisa porak-poranda, harta lenyap, kehidupan berubah. Betapa ternyata kita sangat bergantung pada rahmat Allah: udara, hujan yang sedang, tanah yang stabil, lingkungan yang lestari;  semua itu selalu dalam genggaman-Nya. Bahwa bencana besar ini bukan sekadar “kecelakaan alam”, melainkan panggilan untuk introspeksi: atas diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa: apakah kita sudah berperilaku sebagai seorang hamba yang tunduk kepada Allah di atas muka bumi ini?

Bahwa kaum muslimin sejati harus tampil: bukan hanya dengan belasungkawa di media sosial, tetapi dengan tindakan nyata: simpati, tolong-menolong, donasi, tenaga, doa, dakwah, dan memperbaiki akhlak serta lingkungan. Rasulullah SAW bersabda:

 وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ (رواه مسلم)

“Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”

Oleh karena itu diakhir khutbah ini, marilah kita memperbanyak istighfar, memohon ampun atas dosa-dosa yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari, dan memohon agar Allah melindungi kita, dan menjadikan bencana ini sebagai rahmat, bukan sebagai azab yang terus menimpa.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.

 

Senin, 24 November 2025

Memposisikan Akhlak Sebagai Ruh Pendidikan

 

Memposisikan Akhlak Sebagai Ruh Pendidikan

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin sidang Jum’ah  yang dirahmati Allah,

Rais Akbar Nahdlatul Ulama: Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, dalam mukadimah salah satu kitabnya yang berjudul “Adabul ‘Alim wal Muta’allim” (kitab ini ditulis oleh beliau sebelum didirikannya NU) beliau mengisahkan, suatu hari Imam Syafi'i pernah ditanya mengenai pentingnya adab atau etika dalam pengajaran dan pendidikan: 

كيف شهوتُك للأدب ؟

“Bagaimanakah hasrat dan perhatianmu terhadap pengajaran adab?”.

Beliau menjawab: 

أسمعُ بالحرف منه فتوَدُّ أعضاءي أنّ لها أسماعا تتنعّم به

“Setiap kali telingaku mendengar materi pengajaran adab meski hanya satu huruf, maka seluruh organ tubuhku akan ikut menyimaknya, seolah-olah seluruh anggota tubuhku memiliki pendengaran. Demikianlah perumpamaan hasrat dan perhatianku terhadap pengajaran adab”.

Beliau kemudian ditanya lagi, “Lalu, bagaimanakah upayamu dalam mencari pengetahuan tentang adab itu?”. Beliau menjawab:

طلب المرأة المضلّة ولَدَها وليس لها غيرُها

 “Aku akan dengan sekuat tenaga mencarinya sebagaimana upaya pencarian seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya yang dimiliki”. (Hasyim Asy'ari, Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, 1415 H: 10-11). 

Jamaah Jumah rahimakumullah,

Kisah di atas merupakan sepenggal pelajaran yang sangat menarik dan berharga dari Imam Syafi'I bagi kita semua, yang menjelaskan betapa penting dan berharganya pengajaran adab atau etika. Sehingga orang yang tidak memiliki etika diumpamakan seperti seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya yang dimiliki. 

Adab, akhlak atau etika, merupakan unsur sangat penting dan mendasar dalam kehidupan manusia. Ia adalah tolak ukur yang menentukan mental, kepribadian, dan perilaku seseorang, sekaligus sebagai mumayyizat atau ciri khas yang membedakan antara manusia sebagai makhluk mulia dengan makhluk Allah lainnya. Apabila ciri khas itu hilang maka akan hilang pula kemuliaan martabat manusia, bahkan posisinya bisa jauh lebih rendah dibanding hewan sekali pun.

Sebagaimana firman Allah SWT di dalam al-Qur’an: 

لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم. ثمّ رددناه أسفل سافلين. إلاّ الذين آمنوا وعملوا الصالحات ....

“Sungguh telah Aku ciptakan manusia dalam bentuk (dan kelengkapan potensi) yang sebaik-baiknya. Namun kemudian Aku kembalikan ia pada posisi yang serendah-rendahnya. Kecuali mereka yang benar-benar beriman dan berperilaku sholeh....”  

Dan agar seseorang benar-benar dapat menjadi insan yang beriman dan berperilaku sholeh, caranya tiada lain harus melalui satu proses yang dinamakan: pendidikan. Tentu, pendidikan yang tidak hanya berisi penyampaian materi pelajaran atau keterampilan (skill) semata, akan tetapi include di dalamnya penanaman nilai-nilai moral dan etika, melalui nasehat dan keteladanan seorang guru, apapun materi atau bidang ajar diajarkan.     

Demikian pentingnya adab atau akhlak dalam kehidupan manusia, maka tidak mengherankan apabila dalam sejarah pemikiran (filsafat) misalnya, persoalan adab atau moralitas ini menjadi kajian penting di kalangan para filsuf yang telah berlangsung sejak ribuan tahun silam, hingga melahirkan cabang pengetahuan filsafat moral yang disebut dengan Etika. 

Jama’ah sekalian yang dimuliakan Allah,

Rasulullah SAW pun telah dengan tegas menyatakan bahwa dirinya diutus oleh Allah SWT ke muka bumi adalah untuk memperbaiki akhlak umat manusia, sebagaimana disabdakan oleh beliau: 

إنما بعثت لأتمّم مكارم الأخلاق

“Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah) untuk memperbaiki akhlak”. Selain itu, akhlak atau etika juga merupakan cermin kesempurnaan iman seseorang. Rasulullah SAW dalam hal ini menyatakan:

أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya”. 

Hadirin sekalian yang dirahmati Allah,

Dalam dunia pendidikan pun sama demikian, penanaman etika merupakan unsur utama yang sudah seharusnya menyatu dalam setiap proses pembelajaran, apapun materi yang dipelajari atau diajarkan.

Hal ini selaras dengan hakikat tujuan pendidikan itu sendiri, yakni sebagai upaya pembentukan dan pengembangan seluruh aspek potensi peserta didik secara utuh, sesuai fitrah yang dimiliki manusia sejak lahir, baik potensi intelektual dan spiritualnya, potensi jasmani dan ruhaninya, dan sebagainya. Atau dengan kata lain, hakikat dari tujuan pendidikan itu sebagai upaya penanaman nilai-nilai luhur (transfer of moral) dalam rangka “memanusiakan” manusia. Maka, adalah kurang tepat, apabila tugas mengajar atau mendidik hanya dimaknai secara sederhana sebatas pengajaran materi pengetahuan (transfer of knowledge) semata. 

Oleh karenanya, seiring momentum Hari Guru Nasional saat ini, marilah aktivitas yang kita semua tekuni dalam dunia pendidikan, kita pahami bukan hanya sekadar “profesi”, namun harus dijiwai sebagai sebuah pengabdian dan tanggungjawab “profetik”, yakni tanggung jawab moral kita untuk sama-sama mengemban tugas kenabian dalam rangka menyiapkan generasi masa depan, yang tidak hanya diharapkan terampil dan berilmu pengetahuan tinggi, tetapi juga memiliki akhlak dan keluhuran budi pekerti. [ ] Insya Allah, dengan paradigma semacam ini, setiap waktu, tenaga dan pikiran yang kita curahkan akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT, seiring harapan semoga usia dan rizki yang dititipkan kepada kita akan benar-benar bernilai manfaat serta berkah fid diini wad dunya wal akhirah. Amin ya Rabbal ‘Alamin. 

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم. ونفعني وإيّاكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم. وتقبّل منّي ومنكم تلاوته إنّه هو السميع العليم. أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم فاستغفروه. إنّه هو الغفور الرحيم.




 

Khutbah II


الحمد لله الذي أَكرَمَنا بِدِين الحقّ المبين، وأَفضَلَنا بِشريعة النّبي الكريم، أشهد أن لا اله إلاّ اللهُ وحده لا شريك له الملِكُ الحقُّ المبين، وأشهد أنّ سيّدَنا ونبيَّنا محمدا عبدُه و رسولُه سيّدُالأنبياء والمرسلين، اللهم صلّ وسلّم وبارك على نبيِّنا محمد وعلى اله وصحبه والتابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد: فيأيّها الناس اتّقوا الله، وافعلوا الخيرات واجتنبوا عن السيئات،

 

 واعلموا أنَّ الله أمَركم بأمرٍ بدأ فيه بنفسه وثـنّى بملآئكته بقدسه, وقال تعالى: إنَّ الله وملآئكته يصلّون على النبى يآأيها الذين آمنوا صلّوا عليه وسلّموا تسليما. اللهمّ صلّ على سيدنا محمد وعلى أنبيآئك ورُسُلِك وملآئكتِك المقرّبين, وارضَ اللهمّ عن الخلفاء الراشدين أبي بكر وعمر وعثمان وعليّ وعن بقيّة الصحابة والتابعين وتابعي التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين, وارض عنّا معهم برحمتك ياأرحم الراحمين.

 

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوات. اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاً طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ. ربّنا آتنا في الدّنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النّار.

 

عباد الله، إنّ الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلّكم تذكّرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم واسئلوه من فضله يعطكم ولذكرالله أعزّ وأجلّ وأكبر

 

Minggu, 26 Oktober 2025

Etika Menjaga Privasi dan Menutup Aib Orang Lain di Era Digital Menurut Islam

 

Etika Menjaga Privasi dan Menutup Aib Orang Lain di Era Digital Menurut Islam

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ السِّتْرَ خُلُقًا لِلصَّالِحِينَ، وَنَهَى عَنِ التَّجَسُّسِ وَتَتَبُّعِ أَخْبَارِ النَّاسِ سِّرًا وَعَلَانِيَةً بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الملك الحق المبين، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصادق الوعد الأمين. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، اَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ. وَقَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Saat ini kita hidup di era digital. Melalui internet dan media sosial, semua orang dapat dengan mudah mengetahui berbagai informasi, kehidupan pribadi orang lain, bahkan sampai ke hal-hal yang seharusnya tidak perlu diketahui publik. Karena hal tersebut, tidak sedikit dari kita yang merasa senang ketika menemukan kesalahan atau aib orang lain, lalu dengan cepat menyebarkannya ke berbagai platform, sehingga membicarakannya di kehidupan nyata. Padahal, Islam dengan tegas melarang umatnya untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Setiap individu yang merasa dirinya muslim, wajib menjaga kehormatan orang lain dan tidak mencampuri urusan pribadi yang bukan tanggung jawabnya, apalagi sampai ke ranah privasi. Sebagaimana larangan ini ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya, surat al-Hujurat ayat 12:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
            Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan makna kata “Wa la tajassasu” yang berarti “Janganlah mencari kesalahan (menyingkap privasi orang lain)”, secara rinci dalam Tafsir Al-Munir jilid XXVI, halaman 255. Beliau menafsirkan bahwa larangan ini mencakup perilaku mencari-cari aib, menelusuri kekurangan, atau mengungkap hal-hal yang telah ditutupi oleh sesama Muslim.

وَلَا تَجَسَّسُوا، أَيْ لَا تَبْحَثُوا عَنْ عَوْرَاتِ الْمُسْلِمِينَ وَمَعَايِبِهِمْ، وَتَسْتَكْشِفُوا مَا سَتَرُوهُ، وَتَسْتَطْلِعُوا أَسْرَارَهُمْ، فَالتَّجَسُّسُ: الْبَحْثُ عَمَّا هُوَ مَكْتُومٌ عَنْكَ مِنْ عُيُوبِ الْمُسْلِمِينَ وَعَوْرَاتِهِمْ

“(Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain), yakni janganlah kalian menyelidiki aib dan kekurangan kaum Muslimin, menyingkap apa yang mereka tutupi, serta mencoba mengetahui rahasia-rahasia mereka. Adapun tajassus (memata-matai) ialah mencari sesuatu yang tersembunyi darimu berupa cela dan aib kaum Muslimin.”

Selain larangan tegas yang bersumber langsung dari Allah swt, larangan mencari-cari kesalahan dan menyingkap privasi ini juga datang dari Nabi Muhammad Saw. Dalam haditsnya, Rasulullah saw memberikan peringatan keras kepada kaum muslimin. Beliau melarang umat Islam untuk menggunjing dan mencari-cari aib saudaranya, sebab perbuatan itu dapat merusak hubungan sosial, keimanan, dan menimbulkan perpecahan. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bersumber dari Abu Barzah al-Azlami:

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌يَا ‌مَعْشَرَ ‌مَنْ ‌آمَنَ ‌بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللّٰهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللّٰهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

"Dari Abu Barzah al-Aslami ra., ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Wahai sekalian orang yang beriman hanya dengan lisannya, namun iman belum masuk ke dalam hatinya, Janganlah kalian menggunjing kaum Muslimin, dan jangan pula mencari-cari aib mereka. Sesungguhnya siapa yang mencari-cari aib saudaranya, maka Allah akan membuka aibnya. Dan siapa yang Allah buka aibnya, niscaya Allah akan mempermalukannya meskipun di dalam rumahnya sendiri.” (HR. Ahmad)

Mulai saat ini, kita harus belajar menjaga privasi dan menahan diri dari mencari aib orang lain. Karena tindakan tersebut merupakan standar etika kita sebagai umat Islam yang baik dan menghargai sesama manusia. Perlu diingat, bahwa Allah secara tegas melarang kita untuk mencari-cari kesalahan dan aib orang lain, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Hujurat ayat 12. Begitu pula Rasulullah saw memperingatkan agar umatnya tidak mengintai dan membuka aib sesama Muslim, karena siapa yang melakukan hal itu, Allah akan membuka aibnya bahkan di rumahnya sendiri.

Terakhir, sebagai penutup, di era digital yang serba terbuka ini, ujian menjaga lisan dan jari akan menjadi semakin berat. Oleh sebab itu, marilah kita berhati-hati dalam menggunakan internet, media sosial, tidak mudah menyebarkan keburukan, dan selalu menutup aib sesama sebagaimana kita ingin aib kita ditutup oleh Allah swt, baik di dunia, maupun akhirat.

 بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Minggu, 05 Oktober 2025

Cahaya Baru di MI Nurul Jannah NW Ampenan

 

Cahaya Baru di MI Nurul Jannah NW Ampenan

Renovasi Madrasah Berkat Dukungan BAZNAS RI, Yayasan, dan Komite Sekolah

Ampenan, Mataram — Hujan yang dahulu menjadi momok bagi warga madrasah, kini berubah menjadi berkah penuh syukur di MI Nurul Jannah NW Ampenan. Setelah sekian lama berjuang dengan kondisi atap yang bocor, kini madrasah tersebut tampil dengan wajah baru yang lebih kokoh, bersih, dan menenangkan.

Sebelumnya, setiap kali hujan turun, para guru dan siswa harus menyiapkan ember dan kain pel di berbagai sudut kelas. Air hujan yang menetes dari langit-langit sering membuat proses pembelajaran terganggu. Tidak jarang, kegiatan belajar harus dihentikan sementara untuk memindahkan barang-barang agar tidak terkena rembesan air.

Namun, titik balik itu datang ketika Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia memberikan bantuan dana sebesar Rp25.000.000 untuk mendukung renovasi madrasah. Bantuan ini menjadi napas baru bagi MI Nurul Jannah NW Ampenan untuk memperbaiki sarana yang selama ini sangat membutuhkan perhatian.

Dengan penuh rasa syukur, pihak madrasah segera memanfaatkan dana tersebut untuk melakukan renovasi total pada bagian atap yang sebelumnya menggunakan genteng, kemudian diganti dengan spandek yang lebih kuat dan tahan bocor. Hasilnya, kini ruang-ruang belajar terasa lebih aman, nyaman, dan sejuk.

Selain itu, renovasi juga meliputi pengecatan dinding, jendela, dan pintu, sehingga tampilan madrasah kini jauh lebih cerah dan asri. Plafon teras pun ikut diganti, menambah kesan rapi dan menyambut bagi siapa saja yang datang berkunjung.

Tidak hanya berhenti pada bantuan dari BAZNAS, pihak yayasan dan komite madrasah juga turut berkontribusi secara nyata. Dengan semangat kebersamaan dan rasa tanggung jawab terhadap pendidikan, mereka ikut mengucurkan dana tambahan untuk menutupi kebutuhan renovasi yang belum terpenuhi dari dana awal. Dukungan dari dua pihak ini menjadi penopang penting yang memastikan proses renovasi berjalan lancar dan sesuai dengan harapan.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas bantuan dan perhatian dari BAZNAS RI. Begitu pula kami menyampaikan terima kasih kepada pihak yayasan dan komite yang turut membantu secara moril maupun finansial. Tanpa kerja sama semua pihak, renovasi ini tentu tidak akan berjalan sebaik ini,” ungkap Kepala MI Nurul Jannah NW Ampenan, dengan mata berbinar penuh rasa syukur.

Kini, suasana belajar di madrasah terasa sangat berbeda. Anak-anak datang ke sekolah dengan semangat baru. Mereka bangga bisa belajar di ruang kelas yang bersih, indah, dan nyaman. Tak lagi ada kekhawatiran saat langit mendung — hanya ada keceriaan dan rasa syukur di setiap langkah.

Guru-guru pun turut merasakan manfaatnya. Proses belajar mengajar kini berlangsung lebih efektif tanpa gangguan kebocoran atau kegiatan darurat seperti memindahkan meja dan mengepel lantai. Semangat kerja para pendidik meningkat seiring dengan lingkungan belajar yang semakin layak dan kondusif.

Renovasi madrasah ini bukan sekadar perbaikan fisik. Ia menjadi simbol nyata sinergi antara lembaga zakat nasional, yayasan pendidikan, komite madrasah, dan masyarakat dalam mendukung dunia pendidikan Islam. Dari ruang yang dahulu penuh genangan air, kini lahir generasi yang belajar dalam lingkungan penuh cahaya dan harapan.

Dengan wajah baru yang bersih dan cerah, MI Nurul Jannah NW Ampenan kini berdiri tegak sebagai bukti bahwa kepedulian dan gotong royong masih menjadi kekuatan utama di tengah masyarakat.

“Berkat bantuan BAZNAS RI, serta dukungan yayasan dan komite, madrasah kami kini tak hanya lebih indah, tapi juga lebih bermakna. Semoga dari sini lahir generasi yang cerdas, berakhlak, dan berbakti bagi bangsa,” tutup kepala madrasah penuh haru.

Senin, 18 Agustus 2025

KIDUNG CINTA SANG SUFI: MENANGKAP MAKNA كهيعص DALAM DOA-DOA SANG MAULANASSYAIKH TGKH. MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID AL-MASYHUR

 

 KIDUNG CINTA SANG SUFI: MENANGKAP MAKNA كهيعص  DALAM DOA-DOA SANG MAULANASSYAIKH TGKH. MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID AL-MASYHUR   


OLEH: 
H. FAHRURROZI DAHLAN. QH [ALUMNI MQDH NW PANCOR- ALUMNI 33 PEMUTUS UMBA'- DOSEN UIN MATARAM-DOSEN IAIH NW LOTIM]. 

Semenjak saya mengenal wirid-wirid yang diijazahkan oleh al-Maghfurlah Maulanassyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, ada kata rahasia yang selalu menjadi tanda tanya saya acap kali menerima ijazah wirid-wirid itu, kata yang selalu berulang-ulang ditulis, dimuat, dipajang, diijazahkan, kata itu adalah, كهيعص, timbul pertanyaan, begitu sangat rahasia huruf demi huruf yang ada dalam Qur'an awal surat Maryam itu?. 
Kenapa Maulanassyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid selalu memasukkan kata atau lafaz itu di sebagian besar buku wirid-wirid karya beliau. 
Saya ambil contoh, 
Di Hizib Nahdlatul Wathan tertulis, 
ووقع القول عليهم بما ظلموا فهم لا ينطقون بكهيعص كفينا وبحمعسق حمينا [ص: ٧٢].
اختصار حزب نهضة الوطن :
Tertulis tiga kali. 
١]. لااله الا انت سبحانك انى كنت من الظالمين كهيعص كهيعص كهيعص انصرنا واياهم على من ظلمنا واهاننا بما نصرت به الرسل وحل بيننا وبين الشيطان ونزعه وبين من لا طاقة لنا من خلقك اجمعين [ص:٩٩].
٢]. كون كهيعص حمعسق بسر لا اله الا الله [ثلاثا]. 
٣]. كهيعص طس ق ا ل ر  ح م ن [١٠٩].
Di Hizib Nahdlatul Banat juga tertulis sebagai untaian doa, 
بسم الله بابنا تبارك حيطاننا يس سقفنا كهيعص كفايتنا حمعسق حمايتنا يامن امره فى قول كن - كون كهيعص حمعسق بسر لا اله الا الله [ص: ١١٠]
Terdapat juga di shalawat Rahmatan lil Alamiin, 

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد المبعوث رحمة للعالمين وعلى آله الطيبين والطاهرين صلاة اهل السموات والارضين فى كل لمحة ونفس بدوام ملك الله رب العالمين وأجر يا مولانا خفي لطفك الخفي الخفي الخفي الخفي الخفي الخفي الخفي فى امرى وامر النهضيين والمسلمين واجمع بينى وبين حبيبك المصطفى كما جمعت بين الروح والنفس ظاهرا وباطنا يقظة ومناما يارب العالمين. كهيعص حمعسق بديع السموات والارض واذا قضى امرا فانما يقول له كن فيكون انشر واحفظ وايد نهضة الوطن فى العالمين آمين آمين آمين بالمبعوث رحمة للعالمين والحمد لله رب العالمين. 
Masih banyak lagi lafaz كهيعص itu tertulis dalam karya-karya wirid Maulanassyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid. 
Saya sudah membaca di karya-karya yang lain,: 
١]. حزب الحصن المنيع
Diijazahkan di Medan Hultah NWDI ke-50 [21 Syawal 1406 H/29 Juni 1986 M di Pancor]. 
٢]. حزب البرمي
Diijazahkan di medan HULTAH NWDI ke-55 [24 Zulhijjah 1411 H/7 Juni 1991 di Pancor]
 ٣]. الورد الاسنى باسماء الله الحسنى 
Diijazahkan di medan HULTAH NWDI ke-56 tanggal 18 Rabiul Awwal 1413 H/14 September 1992 M.  di Praya Lombok Tengah.
٤]. ورد الصلوات النهضية 
Diijazahkan di Medan HULTAH NWDI ke-58, 18 Rabiul Awwal 1415 H/ 18 September 1994 M di Pancor. 

٥]. السر الربانى برنجانى الانفنانى 
Diijazahkan di Medan Hultah NWDI ke-59. 

٦]. مفتاح الاسرار لفتح حزائن الاسرار 
Diijazahkan di arena HULTAH NWDI ke-60 pada tanggal 2 Jumadil Akhir 1417 H/ 15 September 1996 di Pancor. 
٧]. الفتح الرباني برنجانى الانفنانى 
Diijazahkan di medan Hultah NWDI ke-61 September 1997, HULTAH WADA' [perpisahan], sebulan sebelum wafatnya al-maghfurlahu Maulanannasyaikh TGKH. M. Zainuddin Abd. Majid tepatnya tanggal 21 Oktober 1997. M. 

Semua wirid-wirid tersebut di atas, selalu ada lafaz كهيعص dalam setiap lantunan doa yang termaktub. 
Lantas kenapa begitu berkhasiatnya lafaz itu sehingga para sufi menggunakannya sebagai wirid kesehariannya, ada apa? 

Mari kita coba telaah makna sufistik dari lafazh: كهيعص sehingga kita benar-benar yakin haqqul yakin bahwa lafazh كهيعص adalah lafaz yang memiliki rahasia ilahi yang tinggi sehingga Maulanassyaikh menjadikannya menjadi wirid zikir dalam doa dan munajatnya. 

Pertama: Sesungguhnya lafazh كهيعص ini adalah ayat mutasyabihat, ayat yang tak mengandung hukum syariat, ayat yang sangat rahasia yang tak tahu hakikat makna selain Allah swt. Namun Allah swt juga memberikan ilmu ta'wil bagi orang yang memiliki derajat, maqom yang Arrásikhun fil ilmi yang dapat menyingkap makna ayat-ayat mutasyábihat itu. 
Kedua: كهيعص
Adalah pembuka ayat pada surah Maryam yang menyebutkan akan arti penting Maryam dalam pandangan Islam. Satu-satunya perempuan yang disebutkan langsung namanya oleh Allah dalam al-Quran adalah Maryam. Kenapa disebut namanya langsung, tidak seperti istri-istri Nabi Muhammad, tak satupun disebut namanya, Istri Fir'aun juga tak disebut namanya dalam al-Quran,istri nabi Soleh. Ternyata rahasianya adalah untuk menjelaskan posisi NABI ISA yang memiliki ibu bernama Maryam, sehingga jelaslah Isa bin Maryam, Isa adalah Putranya Maryam, bukan Anak Tuhan. Inilah rahasia penyebutan Nama Maryam secara langsung agar memberikan penjelasan tentang hakikat asal muasal manusia, yang kemudian surat Maryam ini diawali dengan كهيعص.

Mari kita coba telaah pemaknaan كهيعص ini dalam kaca mata Syaikh Malik bin Dinar Rahimahullahu taala, sang sufi, sang zuhud sang faqih, sang alim allámah. 
Diceritakan bahwa Syaikh Malik Bin Dinar berdialog dengan seseorang yang musafir ke Makkah tanpa membawa bekal, modal dan perbendaharaan, maka terjadilah dialaog itu, sebagai berikut: 

"معنى (كهيعص)  فى سورة مريم "
ﻋﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺑﻦ ﺩﻳﻨﺎﺭ ﺭﺿﻲ ﺍلله ﻋﻨﻪ أﻧﻪ ﻗﺎﻝ: 
خرﺟﺖ حاجاً ﺍﻟﻰ ﺑﻴﺖ ﺍلله ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ فى ﻋﺎﻡ ﻣﻦ ﺍلأ‌ﻋﻮﺍﻡ" 
فبينما أﻧﺎ فى ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭإﺫﺍ برجل ﻳﻤﺸﻲ ﺑﻼ‌ ﺯﺍﺩ ﻭﻻ‌ ﺭﺍﺣﻠﺔ ﻓﺴﻠﻤﺖ ﻋﻠﻴﻪ" ﻓﺮﺩ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻼ‌ﻡ ﻓﻘﻠﺖ له:
Dari Malik bin Dinar bahwa beliau bercerita,  saya keluar musafir untuk berhaji ke baitullah pada suatu musim dari beberapa musim haji yang telah lalu. Suatu saat saya di perjalanan ada seorang yang berjalan tanpa bawa bekal dan tak gunakan kendaraan, maka saya ucapkan salam kepadanya dan dia menjawab salam saya. 
Kemudian saya bertanya. 

من أﻳﻦ أﻧﺖ ؟ ﻗﺎﻝ: ﻣﻦ ﻋﻨﺪﻩ" . ﻓﻘﻠﺖ ﻟﻪ : 
ﻭﺍﻟﻰ أﻳﻦ ﺗﺮﻳﺪ ؟ ﻗﺎﻝ: إﻟﻰ ﺑﻴﺘﻪ" 
ﻗﻠﺖ ﻟﻪ : ﻭأﻳﻦ ﺍﻟﺰﺍﺩ؟ ﻗﺎﻝ : ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻘﻠﺖ ﻟﻪ : إﻥ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻻ‌ ﺗﻨﻘﻄﻊ إﻻ‌ ﺑﺎلمأﻛﻞ ﻭﺍﻟﻤﺸﺮﺏ"
Malik bin Dinar: Dari mana gerangannya anda?. 
Si Musafir: Berasal dari  Allah Swt. 
Malik Bin Dinar: Anda mau kemana?
Si Musafir: Saya menuju rumah Allah.
Malik bin Dinar: Mana Bekalmu, Perbekalanmu?
Malik bin Dinar menpersoalkan lagi: Sesungguhnya jalan dan perjalanan itu tak akan terputus kecuali  karena ada dan tidak adanya yang dimakan dan yang diminum. 
 ﻓﻬﻞ ﻣﻌﻚ ﺷﻲﺀ ؟

Apakah ada memiliki sesuatu yang membersamaimu?. 

ﻗﺎﻝ : ﻧﻌﻢ ﺗﺰﻭﺩﺕ ﻋﻨﺪ ﺧﺮﻭﺟﻲ ﻣﻦ ﺑﻠﺪﻱ ﺑﺨﻤﺴﺔ أﺣﺮﻑ ﻓﻘﻠﺖ : 
ﻭﻣﺎ ﻫﻲ ﻗﺎﻝ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ((ﻛﻬﻴﻌﺺ)) ﻗﻠﺖ : ﻭﻣﺎ ﻣﻌﻨﻰ "ﻛﻬﻴﻌﺺ" ﻗﺎﻝ : أﻣﺎ ﻗﻮﻟﻪ( ﻛﺎﻑ ) ﻓﻬﻮ ﺍﻟﻜﺎﻓﻲ" ﻭأﻣﺎ (ﺍﻟﻬﺎﺀ )ﻓﻬﻮ ﺍﻟﻬﺎﺩﻱ" ﻭأﻣﺎ (ﺍﻟﻴﺎﺀ )ﻓﻬﻮ ﺍﻟﻤﺆﻭﻱ" ﻭأﻣﺎ (ﺍﻟﻌﻴﻦ) ﻓﻬﻮ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ" ﻭأﻣﺎ (ﺍﻟﺼﺎﺩ) ﻓﻬﻮ ﺍﻟﺼﺎﺩﻕ" ومن ﺻﺤﺐ :كافياً ﻭﻫﺎﺩياً ﻭمؤﻭياً ﻭﻋﺎلماً ﻭﺻﺎﺩقاً ﻓﻼ‌ ﻳﻀﻴﻊ ﻭﻻ‌ ﻳﺨﺸﻰ ﻭﻻ‌ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺰﺍﺩ ﻭﺍﻟﺮﺍﺣﻠﺔ" 
Si Musafir menjawab: Iya benar saya berbekal semenjak saya keluar dari negeriku dengan bekal LIMA HURUF saja. 
Malik Bin Dinar bertanya?  Mana yang lima huruf itu?. 
Si Musafir menjawab: 
قال قوله تعالى كهيعص.
Malik bin Dinar : Apa makna huruf itu?.
Si Musafir Menjawab: 
قوله تعالى كاف فهو الكافى.
Kaf: Al-Káfi, Allah zat yang memberi kecukupan, yang menjamin kecukupan rizki sehingga tak akan kelaparan dan kekurangan rizki. 
Al-Ha': Al-Hádi, Dialah Allah yang memberikan bimbingan, petunjuk jalan sehingga tak akan pernah tersesat. 
Al-ya': Al-Mu'wy. Dialah Pelindung, Penjaga, Pemelihara, Dialah tempat kembali,  tempat mengadu segala kesusahan dan kesulitan, Dialah yang menampung semua kesusahan hamba-Nya. 
Al-Ain: Al-Alim, Dialah Allah zat yang maha mengetahui segala kehidupan hambaNya. 
Sedangkan Asshád: Asshoʻdiq, Dialah zat yang maha jujur dan maha benar, yang tak akan pernah mengkhianati hambaNya. 
Maka, 
من صحب كافيا وهاديا ومؤويا وعالما وصادقا فلا يضيع ولا يخشى ولا يحتاج الى الزاد والراحة. 
Siapa saja yang selalu membersamai Zat yang maha cukup, zat yang memberi petunjuk, zat yang tempat kembali, zat pelindung, zat yang maha tahu, zat yang maha benar, maka Dia tak akan pernah menyia-nyiakan hambaNya dan tentu tak pernah khawatir dan tak khawatir jika tak ada perbekalan dalam perjalanannya. 

Lebih lanjut dialognya setelah mendengarkan jawaban itu: 

ﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ :ﻟﻤﺎ ﺳﻤﻌﺖ ﻣﻨﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼ‌ﻡ ﻧﺰﻋﺖ ﻗﻤﻴﺼﻲ لأ‌ﻟﺒﺴﻪ ﻟﻪ فأﺑﻰ أﻥ يلبسه ﻭﻗﺎﻝ : ﻳﺎ ﺷﻴﺦ ﺍﻟﻌﺮي ﺧﻴﺮ ﻣﻦ قميصك. فاﻟﺪﻧﻴﺎ ﺣﻼ‌ﻟﻬﺎ ﺣﺴﺎﺏ ﻭﺣﺮﺍﻣﻬﺎ ﻋﻘﺎﺏ" ﻭﻛﺎﻥ إﺫﺍ ﺟﻦ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻳﺮﻓﻊ ﺭأﺳﻪ ﻧﺤﻮ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ: وﻳﻘﻮﻝ :
ﻳﺎ ﻣﻦ ﻻ‌ ﺗﻨﻔﻌﻪ ﺍﻟﻄﺎﻋﺎﺕ ﻭﻻ‌ ﺗﻀﺮﻩ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲ ﻫﺐ ﻟﻲ ﻣﺎ ﻻ‌ ﻳﻨﻔﻌﻚ ﻭﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﻣﺎ ﻻ‌ ﻳﻀﺮﻙ"
ﻓﻠﻤﺎ ﺃﺣﺮﻡ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻟﺒﻮﺍ ﻗﻠﺖ ﻟﻪ : ﻟﻢ ﻻ‌ ﺗﻠﺒﻲ؟ ﻗﺎﻝ: 
ﻳﺎ ﺷﻴﺦ أﺧﺎﻑ أﻥ أﻗﻮﻝ ﻟﺒﻴﻚ ﻓﻴﻘﻮﻝ لي (ﻻ‌ ﻟﺒﻴﻚ ﻭﻻ‌ ﺳﻌﺪﻳﻚ لن‌ أﺳﻤﻊ ﻛﻼ‌ﻣﻚ ﻭﻻ‌ أﻧﻈﺮ إﻟﻴﻚ") 

Malik bin Dinar berucap: Semenjak saya mendengarkan kalimat itu dari orang tersebut, saya copot baju saya saya tak mau pakai lagi, 
Si Musafir itu berkata lagi, Duhai Tuan Syaikh  yang telanjang tak berpakaian.
Tak berbaju lebih baik dari bajumu itu, sebab dunia saja dengan barang yang halal ada hisabnya, dan dunia dengan barang haramnya siksaan. 

Sembari begitu malam tiba, orang ini mengangkat tangannya menghadap ke langit, 
Duhai Zat yang tak ada manfaat ketaatan juga tak memudharatkan kemaksiaatan bagi MU, Berikan kami pengampunan, apa yang tak memudharatkanMU, 
Saat orang pakai pakaian ihram dan mereka bertalbiah,  saya lihat orang ini tak bertalbiah,
Malik bin Dinar bertanya: Kenapa Anda tak bertalbiah?. 
Si Musafir menjawab: Duhai Syaikh, saya takut untuk mengatakan, لبيك dia hanya berkata kepadaku, 
لا لبيك لا سعديك لن اسمع كلامك ولا انظر اليك.
Kemudian berlalu orang tersebut, sampai saya jumpai dia di Mina sambil berdendang syair sembari menangis: 
ﺛﻢ ﻣﻀﻰ ﻋﻨﻲ ﻭﻏﺎﺏ ﻋﻦ ﺑﺼﺮﻱ ﻓﻤﺎ ﺭﺃﻳﺘﻪ إﻻ‌ ﺑﻤﻨﻰ ﻭﻫﻮ ﻳﺒﻜﻲ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﺷﻌﺮاً: 

إﻥ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺮﺿﻴﻪ ﺳﻔﻚ ﺩﻣﻲ - ﺩﻣﻲ ﺣﻼ‌ﻝ ﻟﻪ فى ﺍﻟﺤﻞ ﻭﺍﻟﺤﺮﻡ"
Sesungguhnya Allah lah yang meredhai aliran darahku- Darahku halal baginya baik aku di tanah halal maupun tanah haram. 
ﻭﺍلله ﻟﻮ ﻋﻠﻤﺖ ﺭﻭﺣﻲ ﺑﻤﻦ ﻋﺸﻘﺖ - ﻗﺎﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺭأﺳﻬﺎ ﻓﻀﻼ‌ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺪﻡ"
Demi Allah, jika aku tahu ruhku hanya untuk yang kucintai- niscaya berbaliklah kepalaku menjadi kaki karena hinaku. 
ﻳﺎ ﻻ‌ﺋﻤﻲ ﻻ‌ ﺗﻠﻤﻨﻲ فى ﻫﻮﺍﻩ ﻓﻠﻮ - ﻋﺎﻳﻨﺖ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﺎﻳﻨﺖ ﻟﻢ ﺗﻠﻢ"
Duhai orang yang mencelaku jangan engkau cela aku dalam hawa nafsuku- aku letih lelah pun engkau tak akan terhina. 

ﻳﻄﻮﻑ باﻟﺒﻴﺖ ﻗﻮﻡ ﺑﺠﺎﺭﺣﺔ -ولو بالله ﻃﺎﻓﻮﺍ ﻷ‌ﻏﻨﺎﻫﻢ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺮﻡ"
ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺣﺞ ﻭ لى ﺣﺞ ﺇﻟﻰ ﺳﻜﻨﻲ - ﺗﻬﺪى الأ‌ﺿﺎﺣﻲ ﻭأﻫﺪﻱ ﻣﻬﺠﺘﻲ ﻭﺩﻣﻲ"

Tawaf di ka'bah suatu kaum dengan susah payah- andaipun mereka tawaf pasti mereka merasakan cukup di Pelataran Haram. 
Orangpun berhaji akupun berhaji semua sampai ke tempat masing-masing. 
Mereka berkurban menyembelih hewan kurbannya. 
ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: ﺍﻟﻠﻬﻢ إﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺫﺑﺤﻮﺍ ﻭﺗﻘﺮﺑﻮﺍ إﻟﻴﻚ ﺑﻀﺤﺎﻳﺎﻫﻢ ﻭﻫﺪﺍﻳﺎﻫﻢ ﻭأﻧﺎ ﻟﻴﺲ لى سوى نفسي أﺗﻘﺮﺏ بها إﻟﻴﻚ ﻓﺘﻘﺒﻠﻬﺎ منى - ﺛﻢ رفع بصره إلى السماء وهو يبكي ثم ﺷﻬﻖ ﺷﻬﻘﺔ وخر ميتاً ﺭﺣﻤﻪ ﺍلله ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺠﻬﺰﺗﻪ ﻭﻭاﺭﻳﺘﻪ التراب ؟ 

وﺑﺖ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ﻣﺘﻔﻜﺮﺍً ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻩ ﻓﺮﺃﻳﺘﻪ ﻓﻲ المنام ﻓﻘﻠﺖ ﻟﻪ : ﻣﺎ ﻓﻌﻞ الله ﺑﻚ ؟! ﻗﺎﻝ : ﻓﻌﻞ ﺑﻲ ﻛﻤﺎ ﻓﻌﻞ ﺑﺸﻬﺪﺍﺀ ﺑﺪﺭ ﻭﺯﺍﺩﻧﻲ" ﻗﻠﺖ : ﻟﻢ ﺯﺍﺩﻙ ؟! ﻗﺎﻝ : ﻷ‌ﻧﻬﻢ ﻗﺘﻠﻮﺍ ﺑﺴﻴﻮﻑ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻭﺃﻧﺎ ﻗﺘﻠﺖ ﺑﻤﺤﺒﺔ ﺍﻟﺠﺒﺎﺭ 
(كتاب ﺭﻭﺽ ﺍﻟﺮﻳﺎﺣﻴﻦ) "ﻟﻺ‌ﻣﺎﻡ ﺍالشافعي

Al-Istifàdah:
Rahasia utama dari lafazh: كهيعص 
Adalah sebagai berikut:
Pertama: Siapa saja yang mengamalkan/mewiridkan akan mendapatkan LIMA HAL UTAMA:
Pertama: 
الكفاية [الكافى]
Kecukupan rizki dan keterpeliharaan dari segala yang tidak menyenangkan.
Kedua: الهداية [الهادى]
Selalu dalam bimbingan Allah swt. 
Ketiga: [الايواء [المؤوى
Penjagaan dan pemeliharaan dari mara bahaya dan malapetaka. 
Keempat: 
العلم [العالم]
Akan diberikan ilmu pengetahuan dan pemahaman ilmu oleh Allah swt. 
Kelima: الصدق-الصادق
Allah akan membimbing menjadi orang yang selalu jujur, berkata benar, berintegritas dan amanah. 

Itulah rahasia utama di balik lafazh كهيعص yang kemudian dijadikan kidung wirid doa oleh para sufi yang dekat kepada Allah swt. 
MAULANASSYAIKH SANG SUFI YANG ARIF BILLAH YANG DEKAT DENGAN ALLAH. 
MAKA BELIAU FAHAM AKAN HAKIKAT كهيعص MAKA DIJADIKANLAH MENJADI KUNCI WIRID-WIRID RAHASIA BELIAU. 


SEMOGA BERKAH UNTUK KITA SEMUA. 

 JEMPONG BARU, 21 SHAFAR 1447 H/18 Agustus 2025.

PTS Hari Ke-1 (Senin, 21 September 2026)