Tampilkan postingan dengan label Kaligrafi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kaligrafi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Maret 2024

Sepintas tentang Ilmu Dhabth

 Adanya bentuk wujud penulisan mushaf Utsmani tidaklah sebagaimana wujud dan bentuk tulisan Al-Qur’an yang dikenal sekarang ini secara keseluruhan. Karena sebelumnya, huruf-huruf Al-Qur’an dalam mashāhif ‘utsmāniyyah tidak pernah mengenal titik dan tanda baca. Maka dari itu, para ulama bahasa dan ahli nahwu, di antaranya seperti Abû al-Aswad ad-Duâli (w. 62 H), al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H) telah berinisiatif dalam merumuskan tanda titik dan tanda baca (nuqath) untuk menjaga kaum muslimin agar terhindar dari kemungkinan bacaan Al-Qur’an yang keliru dan salah. Kegiatan ini merujuk pada satu disiplin ilmu yang disebut dengan ilm dhabt.


Namun apabila ditinjau secara historis, sebagian umat Islam memahami hadirnya ilmu dhabt dalam pemberian tanda baca Al-Qur’an merupakan sebuah bid’ah yang tidak bersumber dari Nabi Muhammad saw. Adanya anggapan ini akhirnya menjadi polemik yang panjang dalam sejarah para ulama klasik. Dari perdebatan tersebut, mereka mempermasalahkan bahwa pemberian tanda baca pada Al-Qur’an itu sesungguhnya sudah menjadi persoalan yang serius di kalangan para sahabat. Sehingga, banyak dari golongan mereka yang kontra masih mempertanyakan mengenai pentingnya membubuhkan Al-Qur’an dengan nuqath (tanda baca), dan merasa khawatir kalau hadirnya nuqath atau harakat tersebut dianggap sebagai bagian dari rasm Al-Qur’an oleh generasi berikutnya. (Fathoni, 2017, hlm. 361) untuk menelusuri lebih lanjut mengenai hal ini, perlu diuraikan terlebih dahulu apa itu ilmu dhabt dan bagaimana penerapannya secara historis sehingga menghasilkan mashāhif ‘utsmāniyyah seperti yang diketahui saat ini.


Sepintas tentang Ilmu Dhabth


Secara etimologi, kata dhabth artinya menjaga sesuatu sesuatu secara total, sedangkan secara terminologi adalah ilmu yang membahas tentang tanda-tanda khusus yang digunakan huruf untuk menunjukkan bunyi harakat tertentu, seperti sukun, tanwin, madd, syiddah, dan sebagainya. Adanya dhabth Al-Qur’an dahulu ditandai dengan nuqthah atau titik, nuqthah yang menunjukkan makna syakl disebut nuqthah al-i’rab, dan disebut juga naqth al-harakat, sedangkan nuqthah yang menunjukkan perbedaan satu huruf dengan huruf lainnya seperti huruf Ba (ب ) dengan huruf Nun (ن) maka ini disebut nuqthah al-i’jām.

Badal

 Badal


Yang dimaksud dengan badal (الْبَدْلُ) adalah mengganti huruf. Salah satu contoh kaidah badal adalah mengganti alif dengan wawu, mengganti nun taukid dengan alif, dan lain-lain. Adapun contohnya adalah


Mengganti alif dengan wawu

صَلَاة - صَلَوة


Mengganti nun taukid dengan alif

إِذَنْ - إِذًا


Washl wa Fashl


Kaidah Washl dan Fashl adalah mengenai cara penulisan disambung atau terpisah. Terdapat beberapa kata yang kadang disambung dan kadang dipisah. Berikut contoh-contohnya




مِنْ مَا – مِمَّا

أَمْ مَنْ – أَمَّنْ

بِئْسَمَا


Lafaz Yang memiliki 2 qiraat


Kaidah terakhir adalah apabila sebuah kata (lafaz) memiliki lebih dari satu macam bacaan maka dipilih yang masyhur atau dipilih salah satunya. Adapun salah satu contohnya adalah sebagai berikut

 

مَلِكِ

Kata di atas terdapat dalam QS Al-Fatihah ayat 4 dan memiliki 2 model bacaan yaitu bisa (مَلِكِ ) dan (مَالِكِ) maka dipilih salah satu yaitu kata (مَلِكِ )

Kaedah Huruf Hamzah

 Kaedah Huruf Hamzah


Penulisan hamzah juga memiliki kaidah tersendiri dalam Rasm Utsmani. Setidaknya penulisan hamzah terbagi menjadi 4 bentuk yaitu alif, wawu, ya', dan tanpa bentuk. Berikut masing-masing contohnya





Hamzah berbentuk alif

أَنْعَمْتَ - أَنْعَمْتَ


Hamzah berbentuk wawu

شُفَعَؤُ


Hamzah berbentuk ya'

يَوْمَئِذٍ


Hamzah tidak berbentuk (diberi tanda baca kepala ain)

جَاءَ - جَاءَ

PEMBAGIAN RASM

 PEMBAGIAN  RASM


Melihat dari spesifikasi cara penulisan kalimat-kaliamt arab, rasm dibagi menjadi 3 macam:


1. Rasm Qiasi/imlai


Ialah penulisan menurut kelaziman pengucapan/pertuturan artianya Menulis kalimat sesuai dengan ucapannya dengan memperhatikan waktu memulai dan berhenti pada kalimat tersebut. Kecuali nama huruf hijaiyyah, seperti ق tidak ditulis  قافakan tetapi tetap dengan ق.


Menurut Al-Zarqani  dengan mengatakan bahwa rasm Imla’I diperlukan untuk menghindarkan ummat dari kesalahan membaca Al-Qur’an, sedangkan rasm Utsmani di perlukan untuk memelihara keaslian mushaf Al-Qur’an. Tampaknya, pendapat ini lebih moderat dan lebih sesuai dengan kondisi ummat, disatu pihak mereka ingin melestarikan rasm Utsmani, sementara dipihak lain mereka menghendaki dilakukannya penulisan Al-Qur’an dengan rasm Imla’I untuk memberikan kemudahan bagi kaum muslimin yang kemungkinan mendapat kesulitan membaca  Al-Qur’an dengan rasm Utsmani.


2. Rasm ‘Arudi


ialah cara menuliskan kalimat-kalimat arab disesuaikan dengan wazan dalam syair-syair arab .hal itu dilakukan untuk mengetahui “bahr” (Nama macam Syair) dari syair tersebut, contohnya seperti:


   وليل كموج البحر ار خي سدو له    sepotong sya’ir imri’il Qais tersebut jika ditulis akan berbentuk  وليلن كموج البح ر ار خي سدو لهو sesuai dengan wazan  (فَعُو لُن مفا عيلن فعولن مفا عيلن ) sebagai timbangan syair yang mempunyai “Bahar Tawil”


3. Rasm Usmani


adalah Cara penulisan kalimat-kalimat alquran yang telah disetujui  oleh sahabat Usman bin affanpada wkatu penulisan mushaf. Rasm Usmani Menjadi salah satu cabang ilmu pengetahuan yang bernama Ilmu Rasm Usmani. Ilmu ini didefinisikan sebagai ilmu untuk mengetahui segi-segi perbedaan antara rasm usmani dan kaidah-kaidah rasm istilahi (rasm yang biasa memperhatikan kecocokan antara tulisan dan ucapan, berikut contoh perbedaan antara rasm usmani dengan rasm istilahi:


Dalam rasm utsmani


 Lafaz (الصلاة) ditulis (الصلوة)


 Lafaz (الزكاة) ditulis (الزكوة)


Lafaz (الحياة) ditulis (الحيوة)


lafaz (لايستوون) ditulis (لايستون)

TAHAPAN PENULISAN AL QURAN

 TAHAPAN PENULISAN AL QURAN


Dalam penulisan alQuran masa dulu, ada beberapa tahapan tertentu yang perlu kita ketahui yaitu:


1. Belum meletakan tanda apapun dalam penulisan


2. Pemberian titik dan baris dilakukan dalam 3 fase:


Fase pertama, ialah di masa Khalifah muawiyyah bin abi sufyan, beliau  menugaskan Abu aswad Ad-dualy untuk meletakan tanda baca (I’rab) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan dalam  membaca.


Fase kedua, ialah pada zaman  Abdul malik bin marwan (65H) khalifah kelima dinasti umayyah itu menugaskan salah seorang gubernur masa itu, Al Hajjaj bin yusuf untuk memberikan titik sebagai pembeda antara satu huruf dengan lainnya misalnya huruf BA dengan satu titik dibawah, TA dengan dua titik diatas dan TSA dengan tiga titik diatas, pada masa itu alhajjaj dibantu oleh Nashr bin’Ashim dan Hay bin Ya’mar


Fase ketiga, adalah pada masa pemerintahan dinasti  Abbasyiyah, alQuran mulai diberikan tanda baris berupa dhommah, fathah, kasroh dan sukun untuk memperindah dan memudahkan umat islam dalam membaca alQuran, Pemberian tanda baris ini mengikuti cara pemberian baris yang telah dilakukan oleh khalil bin ahmad Al Farahidy, seorang ensiklopedi bahasa arab terkemuka kala itu, menurut sebuah riwayat, khalil bin ahmad juga yang memberikan tanda hamzah, tasydid, dan isymam.


3. Pemberian tanda baca tajwid


Pada masa khalifah Al makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal alQuran, hususnya bagi orang yang selain arab, dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa isymam, rum dan mad.


4. Pemberian tanda pada tulisan alQuran


Membuat tanda lingkaran bulat sebagai pemisah ayat, mencantumkan nomer ayat didalamnya,  tanda-tanda waqof, ibtida, menerangkan identitas surah diawal setiap surah yang terdiri atas nama, tempat turun, jumlah ayat dan jumlah ‘ain, Memberikan Tajzi (tanda pemisah antara satu juz dengan juz berikutnya) dan tanda untuk menunjukan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah juz dan juz itu sendiri.

Rasmul Al-Qur‟an

 Rasmul Al-Qur‟an merupakan salah satu bagian disiplin ilmu Al-Qur‟an yang mana di dalamnya mempelajari tentang penulisan Mushaf Al-Qur‟an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakan. Rasmul Al-Qur‟an dikenal juga dengan nama Rasm Utsmani.

Didalam ilmu Rosm Al Quran, membahas cara menulis lafadz-lafadz atau sebutan untuk penyebutan huruf-hurufnya dari segi lafazd, huruf-huruf asal dan ilmu yang membahaskan kaedah menambah, mengurang, menyambung, memisah dan menggantikan huruf.

Ali As-Shobuni membagi kedalam dua masa tentang pengumpulan dan penulisan alquran, yaitu masa Rasulullah dan masa khulafaurrasyidin. Pengumpulan alquran pada masa rasulullah dilakukan dengan dua cara yaitu yang pertama, Pengumpulan dalam dada dengan cara menghafal dan yang kedua, Pengumpulan dalam wujud tulisan yaitu menulis dan mengukirnya

PTS Hari Ke-1 (Senin, 21 September 2026)